Cinta Yang Lain
“Letakkan saja di meja, Nay. Saya akan periksa nanti malam.”
Begitu pintu jati itu tertutup kembali, aku menyandarkan punggung ke kursi kulit yang mahal. Ruangan kantorku ini luas, dingin karena AC yang disetel maksimal, dan terlalu sunyi. Persis seperti suasana rumahku saat Ayla sendirian di sana. Sunyi yang menghakimi. Aku merindukannya. Rasa rindu ini aneh, karena sebenarnya kami hampir selalu berbicara setiap hari. Aku selalu meneleponnya di jam makan siang, memastikan dia sudah makan, memastikan dia sudah beristirahat. Bukan karena aku ingin menjadi suami yang posesif, tapi karena itu adalah satu-satunya caraku untuk merasa bahwa aku masih memiliki peran dalam hidupnya.
**