Di Antara Dua Pilihan
Tidak ada sepatah kata pun dan tidak ada interaksi sedikit pun di ruang makan setelah perselihan pagi ini.
Dhara hendak masuk ke dalam kamar setelah mencuci piring, ia hanya memasak mie instan untuk dirinya sendiri walaupun terdapat beberapa bahan makanan di kulkas yang bisa ia sajikan pada ayahnya.
Pada akhirnya Amir berkata dengan suara serak dan penuh kontrol, “Teh melati, mungkin bisa membantu menenangkan pikiran.”
Anya tidak menyentuh cangkir itu, suaranya tenang, tapi penuh emosi terpendam. “Terimakasih.”