Bukan rahasia lagi kalau kisah-kisah Risa sering muncul dari pengalaman yang terasa sangat pribadi. Aku pertama kali baca tentang ini waktu ngulik wawancara lama—dia memang sering bilang inspirasi berasal dari pengalaman mistis waktu kecil yang berlanjut sampai dewasa. Dalam cerita seperti 'Danur' dia nggak sekadar menulis horor seram; banyak bagian terasa seperti catatan harian, tempat dia menaruh memori, rasa takut, dan juga persahabatan aneh dengan sosok-sosok yang tak kasat mata. Ada nuansa autobiografis yang kental: detail rumah, kebiasaan, dan reaksi keluarganya membuat cerita terasa nyata.
Selain pengalaman pribadi, aku juga nangkep kalau Risa mengambil banyak dari cerita rakyat dan tradisi lisan lokal. Dia sering menyisipkan elemen folklore Indonesia—cara orang tua menasihati, mitos seputar arwah, dan ritual-ritual kecil—tapi dibingkai dengan gaya yang gampang dicerna pembaca modern. Ini yang bikin karyanya nggak cuma bikin merinding tapi juga berasa familiar; seolah cerita itu memang dekat dengan keseharian kita. Aku suka bagaimana dia memadukan kesan personal dan kultur, sehingga inspirasi nggak terasa semata-mata sensasional.
Akhirnya, ada juga unsur terapi dan ekspresi seni di balik semuanya. Dari nada tulisannya aku merasakan bahwa menulis jadi cara dia memahami pengalaman itu sendiri—mengubah ketakutan jadi narasi, dan narasi itu kemudian jadi media untuk berhubungan dengan pembaca. Untukku, itu yang paling menarik: bukan hanya soal hantu, tapi soal bagaimana pengalaman hidup diubah jadi cerita yang bisa dimaknai banyak orang.