Balas Dendam Sang Pendamping Setia
Setiap suara kendaraan membuat langkah mereka makin tergesa.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di Starbucks yang masih buka. Di dalam, hanya ada beberapa mahasiswa begadang dan dua pekerja shift malam.
"Kita pesan kopi, tunggu Sarah," kata Arvino.
Mereka duduk di pojok ruangan. Masih waspada, tapi untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, mereka bisa bernapas lega.
"Vino," ucap Nayla sambil mengaduk latte hangatnya. "Besok, setelah semua ini berakhir, aku nggak mau langsung ngumumin soal kita."
Hot Chapters