Gambaran pertama yang muncul di kepalaku saat mendengar 'puspa indah taman hati' adalah sosok bernama Puspa yang selalu duduk di bawah pohon, memikirkan cinta yang tak pernah selesai.
Menurutku, kalau ini sebuah cerita fiksi—novel atau sinetron—tokoh utamanya hampir pasti seorang perempuan bernama Puspa. Aku membayangkan dia bukan tokoh sterotip; dia punya konflik batin yang rapuh tapi kuat, penuh memori masa kecil dan pilihan yang berat tentang keluarga atau asmara. Dalam versi yang kusuka, Puspa berjuang mencari identitasnya di antara tradisi dan keinginan modern, sehingga judulnya terasa literal sekaligus metaforis: 'puspa indah' sebagai dirinya, dan 'taman hati' sebagai dunia emosinya.
Aku terpikat sama detail kecil: kegiatan sehari-hari yang tampak sepele namun mengungkap banyak hal—surat yang tak pernah dikirim, pekarangan yang selalu dirawat, dialog panjang dengan sahabat. Kalau cerita ini memang ada di kepala penulis seperti itu, maka Puspa adalah pusat gravitasi emosionalnya. Aku suka saat tokoh utama bukan sekadar objek drama, tapi juga sumber pengharapan; itulah yang membuat nama seperti 'puspa indah taman hati' terasa hangat dan terus nempel di otak.