Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Status WA Mantan Istri Suamiku

Status WA Mantan Istri Suamiku

Status WA Mantan Istri Suamiku 2 Amarahku langsung naik ketika membacanya. "Baca ini WA dari Mbak Rima!" Aku kembali memberikan ponselku padanya. "Apa salahnya?" Mas Hans malah kembali bertanya.
109.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 250 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
Purba Mahkota

Purba Mahkota

“Kalau begitu, sekian.” Bukan hanya itu, selain berita mengejutkan bahwa Ayahnya Mahendra ini adalah seorang Dirut sekaligus pendiri perusahaan elektronik yang sudah membuka cabang di mana-mana baik itu besar maupun yang kecil, yang mewah atau sederhana, … ternyata masih ada lagi kabar yang jauh lebih mencengangkan! “Halo Agung batagor! Apa kabar hei?” “Wih. Kabarku baik nih, kau sendiri bagaimana Dwi cangkul?”
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

“Pondok iku membawaku ketemu ing taun sewu wolu Ratih pitung puluh enem, wektu prastawa kabure anak wae wayang Kakungmu saka Sulawesi, kaaran ... Watri ... ” (Pondok itu membawaku bertemu di tahun seribu delapan ratus tujuh puluh enam, saat peristiwa kaburnya anak semata wayang Kakungmu dari Sulawesi, bernama Watri.) "... Watri iki sadurunge ngilang, dheweke mateni kawane. ora sengaja, ora sengaja mateni, melas. dheweke ndean ngupadi kawane ing tengah arus kali, uga ngupadi kain kang kenter. Nanging, tekan wengi dheweke ora walik menyang kerumunan. Kakungmu wis ngupadi lawase sasasi luwih, nanging watri ora mulih uga ora tinemu."
1022.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 523 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
Menuju Matahari

Menuju Matahari

Sang pemilik pondok, seorang pria tua berumur akhir 50-an, menyambut mereka dengan hangat. “Silakan, kelapa mudanya untuk para pengembara yang haus,” kata pria itu. “Denmas dan Den Rara pilih yang mana?” “Berapa harganya ini, Mbah?” tanya Wisnumurti, memilih dua yang berada paling ujung. “Ini cuma-cuma, Denmas. Tidak perlu bayar.”
9.526.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 974 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Tampilkan Ulasan (17)
Baca
+Pustaka
Kebo Rawis
GoodNovel beruntung sekali ada penulis sekelas Mas Wiwien yang mau ikut menyumbangkan karyanya. Salah satu harta karun di platform ini. Cerita yang sangat layak baca bagi siapapun yang paham bedanya karya yang benar-benar bagus dan berkualitas, bukan sekadar "bagus" karena statistik.
KSATRIA PENGEMBARA
Numpang Promo y thor ! Pernah terbayangkan ngak ? kalau ada seorang pendekar dari JAWA DWIPA yg suka mengembara ke berbagai negeri & bertarung dg semua pendekar-pendekar hebat dari seluruh dunia. Pastinya pengembaraan ini sangat menarik utk diikuti Ksatria Pengembara akan UPDATE TIAP HARI
Baca Semua Ulasan
Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Melihat gerak-gerik dan sikap para pengawal itu kiranya dapat diduga ada sesuatu yang mereka khawatirkan. Tak lama kemudian dua kereta kuda yang telah dipersiapkan muncul di halaman. Di atas masing-masing kereta duduk seorang kakek tua berpakaian serba putih, berambut dan berjanggut putih. Kakek ini adalah kusir kereta yang telah mengabdi pada tumenggung Dadung Kusuma lebih dari enam tahun. Tak ada yang tahu siapa namanya. Namun mengingat kebiasaannya yang doyan makan krupuk. Maka orang-orang pun memanggilnya Mbah Krupuk.
98.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 281 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
MADU DARI MERTUA

MADU DARI MERTUA

Martin pun bergegas pulang. Sesampainya di rumah, terlihat lampu ruang tengah sudah terlihat mati karena sudah pukul 21.45., mungkin Sinta sang istri sudah tertidur. Martin pun menyalakan lampu dan ia dibuat kaget karena Sinta masih terduduk di kursi ruang tamu. "Malam, Pa. Boleh tahu, malam begini Papa dari mana?" tanya Sinta penuh selidik. Tidak biasanya, sang suami pulang semalam ini.
1022.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 676 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
Bagaikan Menu Warteg

Bagaikan Menu Warteg

jawab Mas Seno Lalu Mbah Pon duduk di samping Mas Seno. "Nak. Besok ikut Mbah ya."ucapnya "Kemana Mbah?"tanya Mas Seno "Sudah pokoknya ikut saja. Toko libur setengah hari."jawab si Mbah. "Ok. Apa sich yang gak untuk Mbah ku tersayang."ucap Mas Seno. "Ya kalau sayang sama mbah itu ya harus sayang sama Tutik juga."celetuk Mbah Pon
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 104 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
LEGENDA PENDEKAR MABUK

LEGENDA PENDEKAR MABUK

"Yang satu tokoh tua dan yang satunya lagi masih terbilang muda." "Siapa yang tua?" Suara Kala Cengkar tidak serak menyeramkan lagi, tapi menyesuaikan dengan tubuh yang dia rasuki. "Madewa dari perguruan Karang Setra," jawab Jerangkong Koneng. "Dan yang muda?" "Namanya Saka Sinting yang dikenal dengan julukan Pendekar Mabuk!" "Tapi ada satu lagi yang harus diperhitungkan!" ujar Ki Rembong.
1032.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 718 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
MADU Titipan

MADU Titipan

Tak lupa kutuang air dari teko ke dalam gelas. "An, hari ini tolong kau masak yang banyak, ya?" Mas Kamal berbicara dengan mulutnya yang penuh itu. Tempe mendoan yang hampir masuk ke dalam mulut pun, seketika mengerem mendadak. "Memangnya ada acara apa, Mas?" tanyaku dengan posisi tangan yang sibuk memegang cabai rawit dan tempe tepung incaranku. "Bukan acara sih. Gimana, ya ngomongnya? Mmm , jadi gini ... orang tua Mawar mau berkunjung katanya," jelas Mas Kamal.
8.77.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 199 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
Curug Kembar Pintu Gerbang Dunia Lain

Curug Kembar Pintu Gerbang Dunia Lain

--- Sore harinya, mereka memutuskan pergi ke rumah Mbah Rekso, orang tertua di desa yang dikenal punya 'mata dalam' dan sering dipanggil warga buat ngusir gangguan gaib. “Curug Kembar?” gumam Mbah Rekso, alisnya naik sedikit. “Kalian berdua jangan terlalu sering deketin tempat itu. Kalian muda, darah kalian panas. Tempat itu nggak suka sama yang sombong atau gegabah.” “Kami cuma pengin tahu, Mbah,” ujar Arga. “Kenapa tempat itu bisa sampai segitunya? Kok angkernya beda... kayak ada yang nungguin sesuatu di sana.”
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai penerus mbah mad watucongol
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status