Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Bayi Bungkus (Aku Terlahir dengan Mata Batin) (INDONESIA)

Bayi Bungkus (Aku Terlahir dengan Mata Batin) (INDONESIA)

Suara radio persegi kecil di atas timbangan kemeresek melantunkan gending-gending jawa yang menarik paksa bulu kuduk. Nggak ada yang jaga, pikirku. Ragu sebenarnya hendak berteriak memanggil si empunya. Sayangnya, stock pembalut yang tinggal satu-satunya, mau tak mau membuatku berteriak sampai beberapa kali. "Bu, tumbas! tumbas!" Salah satu bahasa jawa yang kuketahui artinya beli. "Tumbas!" Kedua kalinya.
1011.3K viewsOngoingAdded to Library 418 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
JENTERA SAKTI DAN MUSTIKA UDARATI

JENTERA SAKTI DAN MUSTIKA UDARATI

Kata Amasu. Seketika semua bangsa gandarwa, peri (di dalam tradisi Indonesia disebut kuntilanak), Dhengen, ilu-ilu dan lain sebagainya terhempas keluar dari pepohonan yang hidup dan bisa berjalan. Sementara Rukma mulai melepaskan gagaknya untuk terbang menuju jalan yang ditunjukan lonthar Anarghya.
103.3K viewsCompletedAdded to Library 94 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Dijodohkan dengan Bos Super Galak

Dijodohkan dengan Bos Super Galak

Dengan telunjuknya ditunjukkan bulan purnama yang bersinar terang, di balik pohon cemara yang tumbuh di halaman rumah. " Yang bersinar terang, berbentuk bulat , tuh.. tuh... di atas , namanya bulan." kata Ghea. " Sinar sudah lihat?" tanya Ghea. Kepala kecil dengan rambut keriting mengangguk, " B...la...n" kata Sinar dengan suara tercekik. " Yeah .... b .. u.. l. ..a ...n, bulan" kata Ghea. “ Boleh bilang , “ Bulan...?"
15.0K viewsCompletedAdded to Library 299 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
MALAM PERTAMA DENGAN KAKAK SEPUPU

MALAM PERTAMA DENGAN KAKAK SEPUPU

Zahid mulai bicara. Jihan terdiam, ia baru menyadari jika selama ini ia memang belum pernah memberi jawaban yang pasti pada Zahid, sehingga wajar jika Zahid masih terus berusaha mendekatinya. "Wahai Sang pujangga cinta, andaikata langit mendung, bukan berarti ia sedang berselimutkan kabut, ada rembulan yang sedang ia nanti, engkau hanya awan yang bisa datang dan pergi tanpa harus menetap seperti Rembulan yang di rindukan langit," jawab Hera.
106.6K viewsCompletedAdded to Library 217 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Kalau Cinta Jangan Gengsi

Kalau Cinta Jangan Gengsi

tanya Langit menggoda, mengerlingkan mata ke arah istrinya yang menatapnya sengit. “Kamu pikir aku nasi bungkus? Cepat sedikit. Jalanmu sudah seperti ibu-ibu mau melahirkan.” Bulan mengejek Langit. Langit bukannya marah, tapi malah tertawa membayangkan bagaimana ibu hamil berjalan. Pikirannya yang jahil membayangkan perempuan hamil itu adalah Bulan. Seolah tahu isi pikiran Langit yang sedang melamun dan tersenyum sendiri, Bulan memukul bahu Langit.
3.7K viewsCompletedAdded to Library 129 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Dua Sisi

Dua Sisi

Terlihat sekali kalau ia memang ingin menghabiskan waktu di luar rumah kali ini. "Abang sebenarnya tidak keberatan kalau kamu masih mau di sini. Hanya saja ada beberapa orang yang kehadirannya itu seperti mendung. Ketika mereka menghilang, suasana jadi lebih cerah. Dan Abang ingin sekali beberapa orang itu pergi. Sayangnya sepertinya orang itu tidak merasa, atau memang sudah mati rasa saking tidak tahu malunya mengharapkan sesuatu yang bukan lagi haknya. Itu kan sama saja seperti pungguk merindukan bulan. Bener nggak, sayang?"
1030.0K viewsCompletedAdded to Library 750 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Rembulan dalam Dekapan Langit

Rembulan dalam Dekapan Langit

Dia lalu merasakan sentuhan pada perutnya. “Kamu mau dia panggil saya dengan sebutan apa, Lan?” tanya Langit sambil mengelus perut Bulan perlahan. “Eum … Itu … terserah Mas Langit saja,” kata Bulan. “Memangnya kamu mau dipanggil apa?” “Mama.” Langit mengangguk. Dia lalu mengelus perut Bulan lagi dan berkata, “Nak, Mama di sini sudah sama Papa. Kamu akan lahir dan jadi bayi dengan kebahagiaan lengkap.”
883 viewsOngoingAdded to Library 31 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Istri Kecil Kesayangan CEO Tampan

Istri Kecil Kesayangan CEO Tampan

"Ya tapi nggak harus mati juga, Dinda. Kalau kau jadi istri kesayangan Tuan, mana mungkin Nyonya Jia bisa menyakitimu." "Kesayangan beruang kutub itu? Hahaha, aku tak mau bernasib sama seperti pinguin-pinguin itu, yang membuatnya kenyang lalu lupa dan mencari pinguin lain." Tiur tak mengerti dengan arti peribahasa yang baru saja Dinda katakan, sehingga hanya bisa mengangguk tanpa arti. "Dinda, boleh aku bertanya?" Dinda hanya mengangguk sembari terus menikmati mie di tangannya itu.
22.1K viewsOngoingAdded to Library 79 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Elegi Syila

Elegi Syila

ujarnya bangga. "Kalian ibarat bulan dan bintang. Dua benda langit dengan sinar yang indah. Jika salah satu di antaranya hilang, maka yang lain akan melindungi dengan cahaya. Saling melengkapi tak peduli dengan pekatnya malam atau awan mendung yang menutupinya." Mata Felisya berkilat-kilat senang. "Wah, aku nggak nyangka sedalam ini makna cincin pertunangan kami dan aku suka perumpamaanmu kami seperti bulan dan bintang."
3.5K viewsOngoingAdded to Library 131 Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
Menantu Paling Oke

Menantu Paling Oke

"Nah, kakek dah bercerita panjang lebar. Bagaimana dengan kisahmu, anak muda? Bagaimana kau bisa menjerat cucuku ke pelukanmu?" "Aduh, kok menjerat sih Kek, kaya Wisnu penipu kelas kakap aja sampai harus menjerat. Sinta itu bulan bersinar dan Wisnu seperti pungguk, Kek." Wisnu ngikik perlahan lagi. "Heleh jadi kaya pepatah terkenal, pungguk yang merindukan bulan dong, yea?" tanggap kakek mengangguk-angguk.
1042.6K viewsCompletedAdded to Library 1.5K Times as peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan
Read
+Library
PREV
123456
...
8
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status