MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI
Kertas itu berbau debu, tanah basah, dan rahasia yang terkubur selama dua puluh lima tahun.
"Nan, kopinya. Jangan dibiarkan dingin, nanti rasanya asam seperti pikiranmu," suara Fajar memecah lamunanku.
Ia berjalan menghampiriku, kali ini tanpa menyeret kakinya sama sekali. Ada kekuatan baru di langkahnya sejak kejadian di Jakarta. Ia meletakkan cangkir kaleng berisi kopi hitam pekat di atas pagar dermaga. Aroma robusta yang kuat menyengat hidungku, memberikan sedikit rasa sauh di tengah badai emosi yang berkecamuk.