Raina
“Ah, calon imam lo kangen banget ini.”
Galih tidak segan untuk memelukku walaupun masih di bandara. Aku membiarkannya sejenak sebelum mendorong tubuhnya menjauh. Dia tidak protes.
“Mata lo kenapa, Rain?” matanya memicing mengamati mataku.
“Efek gak bisa pup, gue nangis.”
“Parah banget, gitu aja nangis,” ledeknya menarik pipiku. “Sampai sekarang masih gak bisa pup? Pepayanya gak beli?”
Hot Chapters