Hati yang Tak Direstui
Untuk pertama kalinya, Nura menyadari: di balik senyum tenang Arthur, ada luka yang ia sembunyikan dengan sangat rapi.
Ia menatap biolanya, perlahan berbisik,
“Kalau aku bisa, aku pengen banget jadi tempat buat kamu pulang, Arthur…”
Di tempat lain, Arthur duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi layar ponsel yang masih menampilkan nama Nura. Ia menatap lama sebelum menutup matanya, mengembuskan napas berat.
Ia tahu, selama ini ia selalu jadi orang yang kuat di hadapan banyak orang. Tapi hanya di depan satu nama itu—Nura—ia berani jujur tentang rapuhnya.
Hot Chapters