Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
I Coffee You

I Coffee You

Ratna mengeluarkan ponselnya dengan menatap Vita yang masih terdiam. “Memang dia seenak itu? Banyak loh tempat kopi yang enak, kamu nggak mau yang dekat aja?” Ratna menggelengkan kepalanya “Kamu tahu kalau menikmati kopi mereka seketika pikiran tenang. Aku jadi penasaran, apa mereka kasih jampi-jampi ya? Udah mau nggak?”
101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Terbelahnya Rindu

Terbelahnya Rindu

Suara kafe yang ramai terasa meredup, seolah-olah dunia hanya menyisakan mereka berdua di sana. Laras menyesap kopinya, menahan rasa sesak yang merayap di dadanya. Andi mengulurkan tangannya, meraih jemari Laras yang dingin dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, namun penuh arti.
109.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 252 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Istri yang Tak Kau Harapkan

Istri yang Tak Kau Harapkan

Jam tiga sore seperti saat ini adalah waktu rutinitas minum kopinya terlaksana. Karena sedang ingin mencari suasana baru dan mencoba untuk tak merisaukan kehadiran Kristal hari ini di kantornya, Kai pun memutuskan untuk membeli kopinya sendiri. Biasanya Rangga sudah siap sedia membelikan kopinya. “Satu cafe latte,” pesan Kai pada barista yang menerima pesanannya di counter. Saat ia tengah memperhatikan kue-kue yang terpajang di display sembari menunggu kopinya jadi, samar-samar ia mendengar namanya disebut.
105.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Kopi Pahit Di Tepi Sudiya

Kopi Pahit Di Tepi Sudiya

Kopi beraroma kuat yang aku sukai, asam dan pahit menyatu dalam pekatnya ampas. Kopi ini tumbuh berupa semak-semak berdaun hijau lumut yang menghasilkan biji-biji kecil berwarna hijau lalu berubah menjadi merah ketika siap untuk dipetik. Kopi khas Malayaka, ditanam oleh suku yang binasa. Aku menghela napas sejenak. Mereka benar-benar suku yang hebat. Aku sangat berterimakasih atas kopi mereka.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Bicara

Bicara

Aku selalu berharap jika semua itu hanyalah suatu kesalahan singkat, yang besoknya kamu akan mengirimkan ucapan maaf padaku. Sedang apa kamu sekarang? Apa kamu masih mau menungguku untuk pulang? Bian, satu tahun lagi aku pulang. Sekarang, aku tak suka lagi rasa matcha. Kamu tahu kenapa? Karena rasa kopi lebih mencerminkan keadaanku sekarang. Saat ini, hidupku tak bisa jauh dari kopi. Kopi yang awalnya aku benci karena rasa pahitnya yang kejam, kini aku menyukainya karena kopi tidak pernah berbohong.
7.5K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 231 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

*** Puisi Kerinduan *** Kurangkai sebait puisi sederhana Tempatku menuangkan segala asa Kupersembahkan khusus untukmu Wahai ... sang pemilik rindu Di sini ku terdiam Terbelenggu tabir hitam Entah kapan engkau datang Membawa secercah harapan Wahai ... sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Tulang Rusuk

Tulang Rusuk

Entah ikut merasakan gelombang kesedihanku ataukah dia malah kasihan dengan nasibku. 'Aku ingin seperti kopi, yang tetap dicintai tanpa menyembunyikan pahitnya diri. Aku dengan segala kurang dan genapku, apa adanya aku.' "Mbok Rom, ndak ke mantenan?" Aku mencoba menggulung senyum. Siapa tahu masih tersisa riaknya, meski sedikit. “Saya di sini saja, menemani sampean (kamu), Ning." Aku menghidu aroma kopi.
106.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 216 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Rindu yang Membunuh

Rindu yang Membunuh

Ia memeriksa setiap sudut apartemen, memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban. Panik berubah menjadi kemarahan. Adrian mengingat tawa Ayla di dapur, aroma kopi yang ia buat sendiri, rambut yang jatuh di bahu saat tersenyum. Semua hilang. Tidak ada satu pun tanda akan kembali. Tiada pesan, tiada catatan. Ia merasa dikhianati, ditinggalkan, tapi tidak memahami alasannya. Bara kemarahan bercampur rindu yang membeku di dada.
611 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Ruang Rindu

Ruang Rindu

ujar Silvi lalu menyeruput kopi digelasnya dan memejamkan mata seakan sangat nikmat rasa kopi yang bahkan masih mengepul, secara baru saja kuseduh. "Kapan lagi kita ngrasain kopi yang diseduh pake megicCom?" Goda Manda membuat kamj tergelak hebat. "Yang penting magicCom nya bersih... dan lagi... rasa nya jangan di lupain..." elakku tak mau kalah melakukan pembelaan.
107.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 194 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Sentuhan Panas Editorku

Sentuhan Panas Editorku

Mereka duduk berhadapan. “Mari kita langsung ke intinya,” ujar Wildan, menunjuk naskah di depannya. “Novel kamu yang berjudul Secangkir Kopi dan Rindu yang Menguap. Judul membosankan yang hanya menghasilkan kurang dari sepuluh ribu tayangan, sudah aku injeksi dengan ‘sentuhan panas’.”
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 212 kali sebagai puisi kopi dan rindu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status