Kontrak Terlarang sang Penulis
Rian tidak pernah tahu bahwa koin-koin receh yang digunakan Citra untuk membeli beras di akhir bulan, atau untuk membeli susu formula murah milik putri mereka, berasal dari hobi menulis yang ia sembunyikan rapat-rapat ini.
Gaji Rian sebagai buruh angkut pabrik sebenarnya pas-pasan, jika saja pria itu tidak punya penyakit moral, yaitu judi.
*BRAAKK!*
Pintu depan rumah kontrakan mereka yang terbuat dari kayu lapuk dihantam keras dari luar. Citra terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang seketika. Dengan gerakan refleks yang terlatih, ia langsung menutup layar laptopnya, menyembunyikannya di bawah tumpukan kain setrikaan di pojok kamar, lalu mematikan lampu minyak.