Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
The Story of Jawata: Pusaka Ajaib

The Story of Jawata: Pusaka Ajaib

Ia mengakhiri gerakan laksana tarian pemuda. "Sudah sangat lama aku tidak melantunkannya," tambah Radhit. "Seperti mantera!" balas Taja bertepuk tangan. "Aku suka!" "Sepasang makhluk perak dalam air. Bertemu bahagia. Melompati riak samudra," ucap Taja mengulang kembali sebait kalimat bagian Syair Sokkha. "Aku merasakan diriku ... berenang, menyaksikan sepasang hiu melintas di depan mukaku!" ungkap Taja berbinar senang.
109.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 206 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Pendekar Bertongkat Menuju Puncak

Pendekar Bertongkat Menuju Puncak

"Iya, aku tahu. Aku pernah melewati laut." "Rasanya seperti ini ya? Jalan di dalam laut. Aku jadi ingin benar-benar ke laut," harap Hao Yun. "Laut itu jauh dari wilayah kita. Wajar kalau kau tidak tahu Hao Yun. Tapi kenapa kau tahu kalau itu disebut laut?" "Jelas itu karena beberapa orang pernah bercerita padaku. Aku sangat suka dengan hal-hal baru, sama seperti ketika di surga sebelumnya," katanya.
4.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 155 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

"Siapa yang tidak tahu tentang gaya reguler? Nomor satu dalam gaya reguler. Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak punya hak untuk mengikutinya!!" Lu Xiao terus mengabaikannya dan hanya mengambil kuasnya. *"Pasir padang gurun seputih salju, bulan di Gunung Swallow seperti kail.* *Ia memiliki otak emas. Segeralah melangkah di bawah musim gugur yang jernih."* Itu adalah puisi *Ma Shi* karya penyair Li He. Hanya dua baris, namun mengandung rasa kesunyian padang gurun yang mendalam.
1010.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 295 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang

Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang

Membawa bau garam laut yang berbeda dari garam di pasar, bau garam yang sudah ada jauh sebelum manusia belajar menamainya. Xiao Li menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Lautnya berbeda." "Dari laut mana?" tanya Wang Fu. "Dari laut manapun yang pernah aku lewati," jawab Xiao Li sambil matanya menyapu permukaan air yang semakin terlihat jelas di bawah mereka. "Beratnya berbeda. Bukan berat badai. Bukan berat arus dalam. Berat yang sudah ada sebelum kapal apapun pernah menyentuh permukaan air di sini."
9.720.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 516 kali sebagai puisi laut bercerita
Tampilkan Ulasan (14)
Baca
+Pustaka
Klan Qing
Izin promosi ya, Thor. Judulnya: Murid 3 Dewa Novel ini menceritakan petualangan Lin Chen hingga menjadi Penguasa Alam. Selain reinkarnasi Jenderal Perang dari Alam Atas, dia juga memiliki Tubuh Kaisar Langit yang Legendaris. Bahkan 3 Dewa Kuno mengangkatnya sebagai Murid mereka.
Jimmy Chuu
Meskipun membaca buku ini bisa menjadi buku mandiri, namun Lore dari kisah : Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang adalah : 1. Warisan Artefak Kuno 2. Pewaris Kultivasi Iblis - Raja Kelelawar Hitam 3. Dari Penguasa Kegelapan Menjadi Raja Pedang
Baca Semua Ulasan
Pungguk Merindukan Bulan

Pungguk Merindukan Bulan

"Semoga kamu hidup bahagia bersama Siti Hapsari, Kama dan jangan pernah menyesal!" "Kama Nismara …!" Seika terus berteriak sambil berlari ke depan, menyongsong ombak besar yang datang bergulung-gulung, susul-menyusul. Tak pernah terpikir sama sekali olehnya kalau ombak itu benar-benar akan menyentuhnya. Menyeret, menjatuhkan dan sekarang gelagepan dalam rasa takut juga bingung. "Kama, Kama …!
105.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 224 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Lepas dari Keluarga, Hilang di Laut

Lepas dari Keluarga, Hilang di Laut

Uang, kekuasaan, status… hal-hal yang dulu buat mereka bangga, kini terasa begitu hambar dan tak berarti di hadapan kehilangan yang sesungguhnya. Terkadang, mereka pergi ke laut tempat abu Isyana disebar. Mereka duduk di atas batu dan berbicara kepada ombak yang tiada henti, menceritakan apa yang terjadi di rumah, mengungkapkan betapa menyesalnya mereka atas segalanya, betapa rindu mereka padanya. Namun, angin laut hanya membawa suara mereka pergi, tak pernah bawa balasan dari Isyana.
10.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 303 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Suamiku Duda Bisu

Suamiku Duda Bisu

mulai Liora, “laut itu hal yang mahal buatku.” Ia bercerita tentang janji ayahnya, tentang perjalanan pertama ke pantai, tentang rasa jatuh cinta pada ombak dan air asin. “Setiap ke pantai,” lanjutnya, “aku selalu ingat Papa. Rasanya seperti bicara sama beliau. Angin, ombak, semuanya seperti cara Papa menghibur aku.” Kairan mendengarkan dengan dada hangat. Ia tak pernah tahu arti laut sedalam ini bagi Liora.
103.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI

MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI

Matahari Labuan Bajo mulai naik, membiaskan cahaya jingga yang garang di atas permukaan laut yang kini tampak seperti cermin pecah. Di pulau kecil tak berpenghuni itu, pasir hitamnya mulai terasa panas membakar telapak kaki. Kinan meringkuk di sudut gua yang lembap, memeluk Bumi yang napasnya masih tersengal. Bau lumut tua dan kotoran kelelawar di dalam gua itu bercampur dengan aroma amis laut yang dibawa angin.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
THE ISLAND : I'M IN LOVE

THE ISLAND : I'M IN LOVE

sahut Lia mencoba untuk tetap tenang. “Guys! Jujur aku tidak mau lagi merasakan amukan badai laut berhari-hari. Terombang-ambing di atas lautan luas. Lebih baik aku tinggal selamanya di dalam pulau!” Isak tangis Sera mulai menggema seiring dengan deburan ombak yang semakin menggoyang-goyangkan kapal mereka. “Sera, kamu jangan menangis begitu! Bersama-sama kita pasti akan bisa melewati semua ini!” ucap Lia mencoba menenangkan sahabatnya.
102.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Sang Kupu-Kupu Malam

Sang Kupu-Kupu Malam

“Mau kemana? Malam ini agak sepi, kalian baru keluar dari sana, kan?” Elora merasakan ketegangan yang semakin mengental di udara. Ia merasa dirinya terpojok, tapi ia berusaha tetap tenang. “Kami hanya sedang berjalan,” jawabnya, berusaha menunjukkan ketenangan yang tak sepenuhnya ia rasakan. Pria yang berbicara itu tersenyum lebar, matanya menyelidik. “Kalian nggak kelihatan seperti orang biasa. Punya tujuan tertentu, ya?”
904 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai puisi laut bercerita
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status