Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Skandal Asmara Putri yang Terlarang

Skandal Asmara Putri yang Terlarang

POV Matilda Bulan memancarkan cahaya pucat di atas balkon, cahayanya lembut namun jauh. Aku bersandar pada pagar yang dingin, hawa dinginnya meresap melalui telapak tanganku dan naik ke lenganku, seolah mencoba membuatku mati rasa dari dalam. Udara malam menggigit kulitku yang terbuka, menerpa helai rambutku ke wajahku yang menempel di pipiku yang basah oleh air mata. Di bawah, laut bergejolak dalam kegelapan. Ombaknya menghantam tebing dengan irama yang menghipnotis, tanpa henti, mencerminkan pikiran-pikiran yang tak dapat kubungkam betapa pun aku mencoba dengan putus asa.
103.7K viewsCompletedAdded to Library 110 Times as puisi matahari
Read
+Library
Selir Adipati

Selir Adipati

Dia mengusap bulir-bulir air mata dengan jarinya sambil tersenyum lembut. “Jangan menangis kekasihku. Jadilah bunga matahari yang selalu bersinar seperti matahari penyinar bumi alam ini. Kekasihku, jangan perlihatkan air mata kesedihan itu, aku tidak tahan! Kekasihku, engkau harapanku,” kata puitis Patih membuat Intan tersenyum seketika.
9.9401.8K viewsCompletedAdded to Library 10.0K Times as puisi matahari
Show Reviews (152)
Read
+Library
Natasha Amelia
Cerita beda banget Ama Turki. aku udah baca sampai tamat dan beda. Di sini tokohutama gak Ama Adipati saja alias Ama jenderal juga. Akhir juga beda. Alur beda. budayakan membaca sampai tamat baru memberi komen. Semangat author. Cerita yang indah dan sipp. IM your fans
Meow Miu
Lumayan mahal juga buat unlock semua chapternya. Alur ceritanya menarik, tapi banyak part yang disturbing bgt dimana ketika jelas2 laki2nya redflag, tapi Ayu masih "bergetar" seolah2 jatuh cinta. Dan itu terjadi berulang kali, padahal berkali2 diperlakukan kasar, direndahkan bahkan dilecehkan.
Read All Reviews
Mengandung Bayi Presdir Dingin

Mengandung Bayi Presdir Dingin

Kini, tinggal Christopher, wakil presiden dari Perkumpulan Puisi Ibu Kota, ahli kaligrafi dan lukisan Matt, serta para saksi, Senja dan Leia. Ketika giliran Leia tiba pada hitungan keseratus, ia terlihat tersandung. Ia melirik Senja dengan alis sedikit mengerut. Pada hitungan angka tiga, Leia kesulitan. Semua puisi yang berkaitan dengan angka tiga yang ia ingat sudah dibacakan. Setelah beberapa saat berpikir keras, ia dengan enggan melafalkan, "Sinar matahari menghangatkan musim semi ketiga, bunga-bunga bermekaran di hamparan merah sejauh ribuan mil." Setelah selesai, ia menghela napas lega.
3.1K viewsCompletedAdded to Library 124 Times as puisi matahari
Read
+Library
Bertemu di Perancis

Bertemu di Perancis

Puisi ini Ten wiersz jest Garis surya di dinding Żyłką słoneczną na ścianie Seperti semua fotografi musim semi Jak fotografia wszystkich wiosen Aku akan membawakanmu beberapa nyanyian hujan Kantyczki deszczu wam przyniosę Nada musik pudar di lonceng langit Wyblakłe nutki w nieba dzwon Seperti menghirup angin muda Jak młodym wiatrem oddychanie
105.2K viewsCompletedAdded to Library 206 Times as puisi matahari
Read
+Library
Lika-liku Jodohku

Lika-liku Jodohku

Uci mengajak Rio untuk duduk di pasir putih, menarik tangannya agar segera duduk. "Kau lihat matahari itu? Mentari yang menemani hariku hampir tenggelam dengan indahnya. Senja, ia ternamakan senja sebagai gerbang malam telah datang." Uci bercerita bak pujangga yang sedang merangkai kata.
9.88.2K viewsOn holdAdded to Library 288 Times as puisi matahari
Read
+Library
7 Sumpah

7 Sumpah

Pembalasan - 7 Sumpah - Senja di sore itu Menemani kepergianmu Saat kau ucap kata Kau tak lagi bersamaku Perih yang ku rasa Mungkin takkan pernah kau duga Cinta yang dulu ada Kini telah kau bawa Cinta jangan tinggalkan aku Karena takkan pernah ada Cinta selain dirimu Jika kau tinggalkan aku Sanggupkah diriku menghapus Segala bayangmu oh kekasihku Ornito -- Segala bayangmu --------------- Matahari telah setinggi telat di atas kepala. Panas terik sangat menyengat, angin yang berhembus menerpa kulit terasa segar saat ini.
9.96.0K viewsCompletedAdded to Library 223 Times as puisi matahari
Read
+Library
Altair dan Sepasang Matahari

Altair dan Sepasang Matahari

Jiwanya terbang mengembara dan menyentuh impian lamanya. Ruangan itu persis seperti planetorium dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit-langitnya yang gelap. Dengan langkah pelan ia mengamati apa saja yang terpampang di dinding ruangan itu mulai dari lukisan planet Saturnus dengan enam cincin besarnya yang memukau, komet, hujan meteor, hingga... sebuah lukisan matahari yang dua kali ukurannya dari lukisan-lukisan lainnya dan terbingkai kuning keemasan. Lama ia berhenti di sana dan menatapnya. Subhanalloh, bibirnya mengucapkan keterkaguman yang luar biasa. Lukisan itu begitu hidup. Detil-detilnya begitu jelas. Prominensa, spikula, fakula, dan loop gasnya begitu menawan. Ia terkesima.
102.4K viewsOngoingAdded to Library 60 Times as puisi matahari
Read
+Library
Air Mata Di Hari Pernikahanku

Air Mata Di Hari Pernikahanku

* * Jam menunjukkan pukul delapan pagi, sinar matahari pun ikut masuk lewat celah jendela, sehingga membuat Tari terbangun dari tidurnya. Ketika melihat jam yang berbeda di ponselnya, tiba-tiba ia terlonjak kaget melihat angka yang menunjukkan jam tersebut. “Astaga aku kesiangan.” Pekik Tari. Dengan langkah cepat wanita cantik itu berhambur ke kamar mandi, dan melaksanakan ritualnya. Rencananya pagi ini Tari akan bertemu dengan seseorang yang ingin memesan ketring dalam jumlah banyak, karena akan ada salah satu acara yang orang itu selenggarakan.
102.5K viewsOngoingAdded to Library 65 Times as puisi matahari
Read
+Library
Hari Pamermu, Hari Kematianku

Hari Pamermu, Hari Kematianku

Emily yang berdiri di samping terlihat beberapa tahun lebih tua. Dia mengelus batu nisan, lalu meletakkan makanan kesukaanku di depannya. "Julie, kamu sudah mengalami begitu banyak penderitaan dan rasa rasa sakit. Kamu pasti sangat kesakitan ...." Aku yang berdiri di samping bisa merasakan jika jiwaku perlahan-lahan memudar. "Ibu, jangan nangis. Aku sudah nggak merasa sakit lagi."
5.3K viewsCompletedAdded to Library 199 Times as puisi matahari
Read
+Library
Mati Untuk Hidup

Mati Untuk Hidup

Dia terus merasakan pahitnya menjadi orang yang bergantung. Untungnya, penderitaan mereka tidak lagi menjadi penderitaanku. Di tempat dimana cahaya senja bertemu, aku melihat awan di depanku. Jiwaku disucikan, hatiku terasa ringan seperti kabut di gunung. Dalam kabut itu, seolah-olah aku mendengar suara Tuhan yang berbicara padaku. "Dalam hidup ini, apakah kamu membenci mereka?" "Aku nggak benci. Jujur saja, aku juga punya kesalahan terhadap orang lain."
7.9K viewsCompletedAdded to Library 268 Times as puisi matahari
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status