Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Satu Malam dengan Raja Naga

Satu Malam dengan Raja Naga

Lalu melangkah ke arahnya. Dan tepat saat kakinya menyentuh akar jalur itu— seluruh pohon berguncang. Langit terbuka. Dan suara dunia yang selama ini hanya membisik, akhirnya berbicara dengan utuh. “Tulislah dunia ini. Dengan tangan yang tak takut gagal. Dan hati yang tak haus menjadi benar.” Lalu… pohon itu menghilang. Tidak meledak. Tidak membusuk.
101.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Titipan Cinta Bentara

Titipan Cinta Bentara

Jalan Penuh Puisi Aku serupa melihat silet lelaki yang kukenali sejak lama Ketika itu aku berjalan di tenah rerimbunan pohon berdaun larik-larik puisi Dengan tangkai yang meranggas serupa sajak-saja pekat Langkahku maju meski ragu-ragu Menginjak serakan bait-bait coretan pujangga Siluet itu kini berubah menjadi seorang lelaki seutuhnya Wajahnya serupa rumah yang tak pernah kujumpa Wangi yang menguar dari tubuhnya terlalu sering kuhirup namun tak pernah tercium oleh hidungku Dadanya serupa tempatku berkeluh kesah namun tak pernah Namun tak pernah kusentuh Lelaki itu berjalan ke arahku, di jalan yang penuh dengan puisi.
3.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Setelah itu, dia baru menyadari bahwa bukan hanya tulisannya yang bagus, tetapi karya puisinya juga sangat baik. [ Pohon-pohon tinggi di hutan, rumput merambat di istana, burung gagak di kuil. ] [ Beberapa pondok sederhana, mengoleksi puluhan ribu buku, menuju rumah tua desa. ] Setelah membaca puisi yang ditulis oleh wanita itu, Wira terlihat kagum dan segera memandangnya dengan penasaran. Usai menulis, wanita itu segera beralih ke puisi berikutnya. Setelah hanya meliriknya sekilas dan berpikir sejenak, dia langsung mulai menulis puisi baru.
96.1M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 184.1K kali sebagai puisi pohon
Tampilkan Ulasan (2659)
Baca
+Pustaka
Winda KD Fashion
Ceritanya bagus, penuh inspirasi tapi... saya tidak setuju Wira nikah lagi. Kasihan Wulan, selama 3 tahun menahan siksa dari Wira lahir dan batinnya. Walaupun dia tersiksa, dia gak mau ninggalkan Wira, dia selalu melayani dan memenuhi kebutuhan Wira. Wira jadi orang kaya, malah nambah istri lagi ...
Hasan Aunur Rofiq
saya sangat menyukai novel ini karena ceritanya sangat menarik dan pembaca dapat dengan mudah memahami isi novel ini tetapi sayangnya bab di dlm novel ini sangat pendek namun dengan kelebihan dan kekurangan tersebut novel ini tetap sangat layak untuk di baca dan terimakasih untuk pembuat novel ......
Baca Semua Ulasan
Mengandung Bayi Presdir Dingin

Mengandung Bayi Presdir Dingin

Keenam orang itu mengonfirmasi urutan tanggapan puitis mereka. Christopher adalah orang pertama yang membacakan puisi, bertemakan angka dua: "Rumput tumbuh, burung warbler membumbung tinggi di langit bulan Februari (2); di sepanjang tanggul, pohon willow menari dalam kabut musim semi yang memabukkan." Selanjutnya adalah Leia, yang memusatkan syairnya pada angka empat: "Teras ini memanjang empat (4) ribu delapan ratus zhang; merenungkannya membuat orang merasa cenderung mengarah ke tenggara."
2.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
LANTING BRUGA

LANTING BRUGA

Lanting Beruga tertawa terbahak-bahak, "Bagaimana kau bisa bicara Pak Pohon? dimana mana mulutmu, aku tidak melihatnya." Li Wei berusaha menjelaskan kondisi saat ini kepada Lanting Beruga, tapi pemuda itu tidak menghiraukannya. Dengan mata berbinar-binar, Lanting Beruga begitu senang saat menyadari pohon tersebut dapat berbicara seperti manus. "Manusia, sepertinya kau tidak berasal dari wilayah ini?" lanjut pohon tersebut. "Pak Pohon, apa kau bisa buang air besar?" potong Lanting Beruga, "Hemmm...aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau pipis?"
9.33.2M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92.0K kali sebagai puisi pohon
Tampilkan Ulasan (1034)
Baca
+Pustaka
Insan Perantau
sangat menarik jalan cerita..menunggu bab selanjutnya terasa debar di hati menantikan cerita seterusnya.Seakan diri termasuk dalam cerita menantikan lawan yang akan ditewaskan. Rakan- rakan seperjuangan juga menarik isi cerita menghadirkan sebuah cerita yang hebat. Seni pertarungan yang menarik lag
Jayashree
Kalo kamu dijodohkan sosok kaya, rupawan dan sempurna gimana gais? Sayangnya Zora menolak dengan pasti dan memilih kekasihnya yang sederhana. Ayahnya tidak bisa membiarkan hal ini dan berencana untuk menghancurkan kekasih dari putrinya. Hemm gimana kelanjutannya? Mampir ya di "Arti Cinta Untuk Zora"
Baca Semua Ulasan
On CEO's Bed

On CEO's Bed

“Tidak masalah, kau tahu pohon Oak juga disebut pohon malaikat. Dari seratus benih, biasanya hanya satu yang tumbuh. Dia juga tidak akan gugur meski di musim gugur sekalipun.” Alyssa menatap Assa lekat-lekat. Pria yang berdiri menjulang di sisinya itu sekarang terlihat sangat mempesona. “Apa ada banyak pohon Oak di sini?” “Tidak terlalu, hanya ada sekitar sepuluh pohon. Tumbuh secara acak, sisanya adalah pinus Heldrich, Jati dan juga Cemara.” “Kau benar-benar mengenal hutan ini dengan baik.”
1010.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 349 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Tumbal Purnama

Tumbal Purnama

“Kami adalah jiwa-jiwa yang terperangkap oleh perjanjian leluhurmu. Setiap bulan purnama, kami diambil dari dunia manusia dan dibawa ke sini, untuk memberi makan pohon itu.” “Pohon itu?” Bima bertanya, meskipun ia sudah bisa menebak jawabannya. Anak itu menunjuk ke kejauhan, di mana sebuah pohon besar menjulang tinggi. Pohon itu tampak seperti monster, dengan cabang-cabang yang berbentuk tangan, dan akar-akar yang mencengkeram tanah dengan rakus. Di tengah batangnya, ada wajah manusia yang terus bergerak, mengerang kesakitan.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Legenda Kultivator Naga

Legenda Kultivator Naga

Dari balik gumpalan awan hitam, kemudian bermunculan akar-akar pohon berukuran tidak biasa yang menghiasi langit, membuat mereka semua yang melihatnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Seni Kayu - Benih Pohon Dewa." Ribuan benih pohon dewa melesat dengan kecepatan tinggi dari akar-akar yang menghiasi langit, dimana setiap kali benih pohon bersentuhan dengan sesuatu, maka benih pohon itu akan dengan cepat tumbuh menjadi pohon besar hanya dalam satu tarikan nafas.
9.8160.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.6K kali sebagai puisi pohon
Tampilkan Ulasan (46)
Baca
+Pustaka
Hamfa Merman
Kisah seorang anak yang dikucilkan menjadi seorang Pendekar hebat bergelar Kaisar hanya di novel berjudul PENDEKAR KAISAR RASKAR. Dijamin seru, menegangkan, dan baku hantam serta adu mulut pun ada. Silahkan dicek ya, he-he-he!
Seutou kisaki
izin promosi novel judul : terkuat dari yang terkuat sinopsis: Dalam dunia sihir yang dibagi oleh kasta dan penindasan, Lennos, seorang cucu dewa terkuat, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh seorang pangeran ambisius. Menghadapi pengkhianatan dan kehilangan semuanya. genre - fantasi
Baca Semua Ulasan
Elegi

Elegi

Sekali lagi ia mengabaikan eksistensi sepasang Sura, beserta peri pohon, dan juga sesosok Dragon ketika mendapati isi kotak itu adalah lembaran kayu aspen dengan sebuah tulisan yang begitu rapih di permukaannya. Yang fana ialah waktu Yang nyata ialah kau Dan aku hanyalah ketidakpastian yang membelenggu Air ialah diriku dan kau ialah pijar api yang menggelora Kita hanyalah kepulan asap yang tertiup angin lalu tiada Rindu ialah setiap denyut yang menyesakkan dada Ia jatuh di Bumi yang tak semestinya ia tinggali
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

Memandangi ranting-ranting kering yang menggapai langit kosong itu, sudut mata Lu Xiao perlahan memerah. *Ini pasti pohon yang disebutkan Qingwu dalam suratnya.* Tiba-tiba, sepotong syair kuno dari *Xianggu Yanzhi* melintas di benaknya— *"Di pekarangan istana ada pohon-pohon yang kutanam sendiri dengan tanganku. Kini istri telah tiada, pohon-pohon itu tumbuh tinggi ramping—setinggi kesedihanku."*
107.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status