Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Legenda Penjinak Monster

Legenda Penjinak Monster

Rongga matanya memancarkan cahaya biru muda yang penuh kebijaksanaan, membuatnya tampak seperti seorang biarawan pertapa. (Gambar) Saat Link mendekat, batang pohon pengetahuan kuno itu mengeluarkan suara berderit. Pohon itu menatap Link dan berkata, "Aku mengenalmu." Pohon pengetahuan kuno itu berbicara perlahan, tetapi setiap kata dipenuhi dengan keyakinan, menyebabkan udara bergetar. Fu tercengang. Dia tidak menyangka akan melihat pohon hidup yang bisa berbicara!
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Pendekar Pedang Bulan Sabit

Pendekar Pedang Bulan Sabit

"Kenapa pohon ini bergetar?" Bai Lu mencoba mendekatkan telinganya ke arah pohon Maple tersebut. Saat menempelkan telinganya ke arah batang pohon, benar apa yang dikatakan Azura tadi. Ia bisa mendengar suara teriakan manusia di dalam pohon itu, seperti meminta sebuah pertolongan. "Kau benar, ini adalah pohon kematian. Azura!!" teriak Bai Lu memanggil.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

00 – Penutup Hari: “Pohon Harapan” Peserta menulis satu kata di daun kertas kecil – kata yang mereka harap menjadi inti dari hidup mereka. Mereka kemudian menggantung daun kertas itu di “Pohon Harapan” – pohon besar di tengah area. Anya menulis: “DAMAI” Ia menggantungnya sambil berdoa. Saat sore itu matahari terbenam, Anya merasa ada sesuatu yang berakar di hatinya:
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Omega Kesayangan Tuan Alpha

Omega Kesayangan Tuan Alpha

Aroma pinus dan tanah lembap bercampur dengan bau samar serigala di kejauhan. Kia bersandar pada batang pohon oak tua, lengannya disilangkan di dada, punggungnya menempel kulit kayu. Ia tampak seolah memang tercipta untuk berada di sini—gelap, tenang, dan penuh perhitungan, dengan senyum puas yang khas mengembang di sudut bibirnya. Malam ini hutan adalah papan caturnya, setiap bayangan adalah bidak yang potensial untuk digerakkan.
780 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Layar di depan ruangan menyala, menampilkan sebuah lukisan tinta hitam-putih bergaya klasik. "Lukisan ini berjudul 'Renungan di Musim Gugur'. Sang pelukis terinspirasi dari bait puisi karya Edward yang berbunyi: 'Pohon tua, ranting kering, gagak senja, rumah kecil di tepi jembatan, aliran air mengalun. Kuda berderap di jalan tua diterpa angin barat, matahari terbenam, dan hati yang merana di tanah perantauan.'" "Yang menarik, pelukisnya tidak menuliskan nama di lukisan ini. Bagaimana kalau kita coba tebak, siapa kira-kira penciptanya?"
9.51.1M DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27.2K kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Dalam pesan itu, dia menulis: [Kamu bilang kamu selalu ingin melihat hujan di kota kelahiran Ayahmu, 'kan? Komandan bilang, enam bulan lagi aku bisa mutasi ke pusat militer di sana. Nanti, kamu kuliah saja di Universitas Adiwangsa. Kita bisa melewati rintik hujan bersama, berjalan beriringan sampai rambut kita memutih dimakan usia, sebuah janji untuk menua bersama."
2.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Cinta Yang Tak Pernah Dipilih

Cinta Yang Tak Pernah Dipilih

Kadang, di sore hari, ia duduk di beranda sambil menatap pohon jambu tua yang dulu menjadi saksi rahasia keluarga. Kini pohon itu berbuah lebat. Di bawahnya tumbuh semak melati yang harum setiap kali hujan turun. Di sana, ia meletakkan batu kecil dengan tulisan sederhana: Untuk yang pernah terlupakan. Kini kau bersama cahaya. Ia tak lagi merasa sendirian. Setiap kali angin lewat, dedaunan bergoyang lembut, seolah ada yang menyapa. Kadang, dalam kesunyian, ia mendengar suara tawa kecil — samar, tapi menenangkan.
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Penjaga Keseimbangan: Takdir Dewa dan Iblis

Penjaga Keseimbangan: Takdir Dewa dan Iblis

Pohon Kehidupan melambaikan daunnya dan mengusap lembut Pipi Shu Sheng dengan lembut untuk menenangkan emosi Shu Sheng yang sedang gelisah. Angin berdesir membawa sebuah pesan dari alam. Shu Sheng merasakan angin itu melewati tubuhnya membuat rambut hitam panjangnya berkibar. Setelah angin itu menyampaikan pesannya, ia bisa tahu kalau waktunya sudah tiba. Saatnya dirinya meninggalkan Hutan Musim Semi. Shu Sheng mendekatkan dirinya pada Pohon Kehidupan yang bersedih untuknya dan meletakkan pipinya di batang pohon itu dalam posisi memeluk.
943 DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Ia meraih Dinda, memeluknya erat. “Puisi kamu indah banget sayang.” Dinda tersenyum “Itu buat Bunda dan Ayah.” “Bunda yakin Ayah denger,” jawab Dina lembut, “karena cahaya nggak butuh suara untuk sampai ke langit.” Sore itu, Dina menyalakan pelita di ruang tamu. Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir,
688 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai puisi pohon
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status