Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Apple of My Eye

Apple of My Eye

batinku puitis, sayangnya puisi patah hati, hwaaaaa. Tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya aku boleh pulang. Aku sudah nggak betah dan ingin pulang. Aku kangen kamarku dan suasana barunya. Rumah baru yang kutempati sebulan itu sudah melambai-lambai bahagia. Sebab rumah itu memang nuansanya aku banget. Ayah sengaja membangunnya dengan mengingatku dan bunda. Lalu kamarku diciptakan dengan nuansa shabby chic. Nuansa broken white dan pink pastel sangat kental di sana.
1015.2K viewsCompletedAdded to Library 501 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Aku Tak Bodoh

Aku Tak Bodoh

Hei Pembenciku Jangan benci aku Nanti kamu tersiksa Hei Pembenciku Jangan mengintaiku Nanti kamu kecewa Aku senang-senang Menikmati hidupku Kenapa kamu yang jadinya Tersiksa terganggu karena aku Ngaku-ngakunya bahagia Tapi kenyataannya kamu susah Susah melihat melihat Kalau aku bahagia, itu derita lo Blam Pintu tertutup rapat. *** "Arrahman … Allamal qu'ran …." Suara mengaji dari masjid dekat rumah, berhasil menyentak dari tidur nyenyakku setelah tertidur lagi dari aktivitas ibadah malam, yang biasa kulakukan.
9.5K viewsOngoingAdded to Library 381 Times as puisi rumahku
Read
+Library
PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

PESONA SUAMIKU YANG TAK PERNAH MEMILIHKU

Model lama, halaman kecil dengan pagar kayu dan kursi bambu reyot di depan. Qale membeku. “Rasanya ... aku pernah lihat rumah ini...” gumamnya. “Ini,” kata pria itu, “boleh kamu sebut ... rumah.” Kadang, rumah bukan tempat kita tinggal, tapi orang yang berani tinggal bersama ... saat diri tak punya apa-apa selain luka. Qale mengangguk, menoleh ke pria disampingnya, matanya berkaca-kaca. "Aku pulang." . .
103.4K viewsCompletedAdded to Library 129 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)

Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)

PoV Silvi Setelah beberapa hari berpikir, akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru bagiku tempat yang menakutkan. Bagaimana tidak? Jika kaki ini menginjakkan rumah yang terbilang mewah itu, segala caci maki serta omelan selalu kudapatkan tanpa tahu kesalahan apa yang telah aku perbuat.
10102.5K viewsCompletedAdded to Library 3.4K Times as puisi rumahku
Show Reviews (19)
Read
+Library
Isabella
nofel yg benar benar keren bikin ngakak tingkah si Dion dan si Dendy . ada kocaknya. ada manisnya ada romantisnya ada genre nya pokoknya komplit ....pokoknya keren keren keren. ku tunggu nofelnya yg lain thoer
Afdan
Bab Sakit...knpa ayu harus nangis kan emang salah dia sendiri tuh knpa sih thor lembek amat bisa aja buat si ayu liat ponselnya trus liat chatnya..kn dia yang mulai kata firman ajak nonton udah pasti abngnya marah bilang gitu..trua ayu knpa nangis punca masalah dirinya yang cipta..Lol
Read All Reviews
Diary Rain

Diary Rain

~Sesi Lagu~ Kapan lagi kutulis untukmu Tulisan-tulisan indahku yang dulu Pernah warnai dunia Puisi terindahku hanya untukmu Mungkinkah kau kan kembali lagi Menemaniku menulis lagi Kita arungi bersama Puisi terindahku hanya untukmu -Jikustik, Puisi- ~Sesi Lagu Berakhir~ Seketika tubuhku membeku. Pikiranku langsung melayang. Suara itu seperti berada tak jauh dari rumahku. Aku langsung menoleh ke arah jendela kamar. Segera aku berlari dan membukanya dengan tidak sabar.
107.2K viewsOngoingAdded to Library 280 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Hanya Karena Sebuah Rumah

Hanya Karena Sebuah Rumah

Foto itu menunjukkan Boni sedang memasak bubur di dapur, dengan tulisan, "Siapa bilang nggak ada pria baik di dunia ini? Dia nggak hanya mengajariku menyetir mobil Mercedes dengan satu tangan, tapi juga memasak bubur untukku saat aku lapar. Hm, harum sekali~" Aku mengaduk bubur itu dengan sendok sambi tersenyum pahit, tapi yang kurasakan hanya mual. "Buang saja, aku nggak mau makan." Raut wajah Boni langsung memuram. Dia menatapku tajam dan berkata, "Kamu kenapa lagi? Aku sudah repot-repot membawakannya dan kamu malah mau buang begitu saja?" "Kamu marah karena aku memindahkan kepemilikan rumah ke nama Sofie, 'kan? Aku tahu kamu kesal, tapi aku juga nggak melarangmu untuk tinggal di rumah itu
13.6K viewsCompletedAdded to Library 502 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Rumah Kedua Suamiku

Rumah Kedua Suamiku

Rumah Kedua Suamiku [Lihat ini, bagus sekali kan? Kamu dapat oleh-oleh apa dari suamimu, Shanum?]" Pesan dari Eva, calon istri dari teman sekantor suamiku sekaligus sahabatku di waktu SMA dulu. Ia memperlihatkan sebuah Bros motif pintu Aceh berwarna gold, manis sekali.
104.5K viewsOngoingAdded to Library 104 Times as puisi rumahku
Read
+Library
PAPA MUDA

PAPA MUDA

Cinta Tak pernah meminta berlabuh di mana Sekotor apa pun wadahnya, tetap kan menyapa Derap langkah akan selalu mencari cara Untuk akhir yang tersembunyi bersama rahasia Cinta Kuatkan hati agar selalu setia Luaskan sabar menahan lara Hingga doa mampu berikan asa Aku dan kamu bisa bersama Gerimis di bumiku, 4 Oktober' Puisi terunggah tanpa menunggu lama. Ada kepuasan tersendiri bisa menyampaikan rasa lewat aksara. Bahkan ada keinginan untuk mencoba hoki dalam dunia literasi dan mengejar mimpi lewat satu cerita. Namun, nyalinya belum sekuat itu. Ia takut malah tidak bisa lagi berenang ke tepian lalu tenggelam karena melakukan tindakan berbahaya. Sementara raga belum mempersiapkan diri sama sek
109.0K viewsCompletedAdded to Library 188 Times as puisi rumahku
Read
+Library
Nature Squad

Nature Squad

There's a house we can build (Ada sebuah rumah yang bisa kita bangun) Every room inside is filled (Setiap ruangan di dalamnya terisi) With things far away (Dengan sesuatunya dari jauh) The special things I compile (Hal-hal special yang aku kompilasi) Each one there to make you smile (Masing-masing hal itu membuat aku tersenyum) On a rainy day (Pada sebuah hari hujan) Binar percaya tidak ada hal yang tidak mungkin. Selama ia tidak menyerah, mimpinya itu pasti akan terwujud. Gadis itu percaya Tuhan akan memudahkan jalannya.
105.3K viewsCompletedAdded to Library 191 Times as puisi rumahku
Read
+Library
GADIS PILIHAN CEO

GADIS PILIHAN CEO

"Iya, Om." Ada sedikit rasa nyeri saat kutundukkan kepala. Samar-samar bayangan kakiku terlihat jadi dua. Setelahnya kembali seperti semula. Aku menggelengkan kepala. "Rumah kamu di mana?" "Jalan purnama, Om." "Oke," balasnya. Setelahnya tak ada obrolan lagi. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing hingga sampai di rumah pun begitu.
1030.3K viewsOngoingAdded to Library 1.1K Times as puisi rumahku
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status