Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Saat Kau Ambil Suamiku, CEO Itu Jadi Milikku

Saat Kau Ambil Suamiku, CEO Itu Jadi Milikku

Musim hujan datang tanpa banyak peringatan. Awalnya cuma gerimis lembut yang membasahi jalan, lalu berubah jadi rintik-rintik yang menetap, mengetuk jendela dengan ritme tenang. Buat kami, hujan bukan sekadar cuaca. Ia seperti bab baru—bukan yang menutup, tapi yang menyembuhkan. Surya menemukan kesenangan aneh dari suara hujan. Sore itu, dia duduk di dekat jendela, dagunya bertumpu di lutut, dahinya menempel di kaca dingin.
10990 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Ketika Luka Lama Kembali Menyapa

Ketika Luka Lama Kembali Menyapa

Hujan kembali turun, tapi kali ini hanya gerimis kecil. "Apa kamu masih menyimpan tulisan itu?" tanya Mikael tiba-tiba. "Yang mana?" "Puisi yang kamu tulis waktu kamu patah hati." Liora tertawa kecil. "Itu banyak. Mana yang kamu maksud?" "Yang ini." Mikael membuka catatan di ponselnya dan mulai membacakan: “Aku menyimpan bekasmu di jemariku, bahkan setelah hujan menghapus yang lainnya. Tapi jangan salah sangka aku bukan menunggu, hanya belajar menerima.”
101.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Kultivator Jiwa Modern

Kultivator Jiwa Modern

“Kau tahu apa artinya ini?” Risa mengangguk pelan. “Dunia mulai meniru kita lagi. Dan itu berarti dunia... sedang belajar membenci.” --- Malam tiba. Hujan turun, tapi butirannya bukan air. Setiap tetes mengeluarkan suara kecil—“ting, ting, ting”— seperti nada-nada yang tak selaras. Risa berjalan sendirian ke arah lembah tempat cahaya Bara dulu muncul.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Menikahi Tuan Maximilian

Menikahi Tuan Maximilian

Ironinya, hanya tinggal dirinya sendiri di sana menghuni. Hujan datang di enam menit lalu. Pandangan Jharna terpaku, menatap kosong genangan air hujan di aspal. Terkadang, dia bertanya-tanya, apakah hujan memiliki ingatan? Atau, sesuatu yang dapat memancingnya petir menemani di sela derasnya hujan itu sendiri.
2.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Suamimu Masih Mencintaiku

Suamimu Masih Mencintaiku

lelah? Aku mematikan ponsel kembali. * Malam itu, hujan turun mendadak. Derainya membasahi atap rumah kayu, menciptakan irama yang menenangkan sekaligus menyiksa. Kilat menyambar di langit laut. Dan aku… berdiri di depan jendela, mengusap perut. “Kita harus sama-sama bertahan, walau sulit,” bisikku pada udara.
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 147 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
PEREMPUAN MASA LALU

PEREMPUAN MASA LALU

Aku hanya bisa tersenyum tanpa suara. Hujan memiliki banyak hikmah. Ia bagian dari rezeki Allah yang diturunkan melalui perantara Malaikat Mikail. Selain dapat menyuburkan tanaman, juga karena hujanlah Rafan tidak masuk kerja hari ini sehingga rumah tidak sunyi.
1037.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 898 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Di Balik Hujan

Di Balik Hujan

“Yah sudah, tunggu apalagi? Ayo kita … mandi hujaaan ….” Saat itu, pertama kalinya aku keluar dari rumah dan merasakan, bagaimana rasanya, ditimpa air yang jatuh dari langit dengan jumlah yang sangat banyak. Begitulah yang tergambar di benakku, ketika pertama kalinya melihat hujan. Pikirku, rasanya akan terasa sakit. Tapi? Hmm … dingin? Basah? Ya, rasanya aneh, tapi seru, hahaha. ***
108.1K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 179 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
TERALIS WAKTU

TERALIS WAKTU

Hujan Sejuk menyergap Bersandar bersama kedatanganmu Hujan sunyi kudapat Bersama heningnya malam Dalam relung terdalam Hujan Rintikmu bagai bui dilautan Membasahi bumi yang kehausan Hujan Indahnya malam Bertabur cahaya Lampu jalan Hujan Aku sendirian Menanti dia Yang hidup dalam bayang pekerjaan “Heeeeeeeehm...” Aku tak menyangka pilihanku menghabiskan waktu 2 hari kemarin dikamar hotel menikmati kenikmatan dunia akan ku sesali saat ini. “Tau begini,aku pasti akan membuat jadwal padat untuk berkeliling Bali..”gerutuku “Ya tuhaaan,maafkan aku jika belum bisa jadi istri yang baik..tapi aku kesaaaaaal “kataku kemudian sedikit berteriak menengadahkan kepala ke atas berbicara dengan sang pemilik
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Mencarimu dalam Bimbang

Mencarimu dalam Bimbang

Menghukum udara untuk memeluk siapapun yang berada di atasnya. Sebatang pena melukiskan keaadaan yang menguak berjuta kenangan. Langkah yang terhenti lebih menarik perhatian. Dengan izin Tuhan, air mata penantian kian saling berjatuhan. Tertopang kembali tubuh yang condong ke tanah yang penuh duri. Setelah kepalan-kepalan asap hitam pergi menyelimuti mentari. Tetesan hujan yang membasahi bumi yang telah memporak-porandakan kegaduhan hingga membuat hati sepi. Bagai kota yang telah mati. Buku-buku dengan puisi yang sangat gila. Hancur seketika usai kehilangan goresan-goresan cinta yang terjatuh dari tetesan tinta hingga malam berpesta mengunjungi mimpi gadis jelita.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
D E K A P

D E K A P

-Untuk Rara dari dirinya sendiri- Tetap Melangkah Derasnya hujan dan kencangnya angin, Menerpa setiap sudut rasa ingin, Dia datang seraya hantam batin, Di pagi ini yang amat dingin. Lalu, bagaimana ? Akankah semangat pudar ? Apakah hati kehilangan sabar ? Tidak, kau tak perlu menjadi kasar. Tempuhlah, hadapilah, Hujan dan badai hanya sementara,
107.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 283 kali sebagai puisi tentang hujan 1 bait
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status