Kehidupan Setelah Perpisahan
Ia mengucapkan pelan satu per satu, seolah sedang menanamkan doa di hati:
“Rayan Aldama... Revan Aldamar... Alya Adelina...”
Hanum memeluk bahunya. “Tiga nama, tiga doa, dan tiga alasan kamu untuk tetap kuat, Nak.”
Seno menambahkan dengan lembut, “Dan tiga alasan buat kita semua untuk bersyukur.”
Keharuan memenuhi kamar. Tak ada yang bicara untuk beberapa saat. Semua hanya menatap Dina, yang kini meneteskan air mata bahagia.
Tiba-tiba, Bik Sarti memecah suasana haru. “Eh, kalau udah besar, aku mau jadi yang pertama ngajarin mereka makan bubur!”
Hot Chapters