JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
zolepenarumah eyangrumah eyang jogjacerpen suamiku garangrumah nenek
“Lihat opo iki? Kamu nangis, tereak nyebut nama orang dari tadi, kenapa? Neng, ini Eyang. Kamu kenapa?”
“Eyang, ayo kita pergi,” sungutku.
Dengan getaran di sekujur tubuhku meraih tangan Eyang. Aku terisak sembari memohon, aku tidak mau ada yang mati setelah adikku. Dia belum tenang karena sosok itu masih ada di rumah. Rahma bilang semua orang akan mati.
“Pergi ke mana? Le, tolong ambilkan minum dulu. Biar Imel tenang," ujar Eyang pada Bang Oar.