Pembalasan Sang Dokter Jenius
Seketika, matanya terbelalak.
Ia mengunyah perlahan, lalu lebih cepat, seolah tidak percaya dengan apa yang dirasakan lidahnya. Rasa manis, gurih, dan sedikit pedas dari orek tempe itu begitu pas, begitu nikmat. Nasinya pulen dan hangat. Sambalnya segar dan menggigit. Ini… ini adalah rasa masakan ibu wati yang dulu, yang selalu ia rindukan. Bahkan, rasanya jauh lebih enak lagi.
“Lho, bu wati!” seru pak tono, membuat semua orang menoleh. “Kok… kok rasanya beda? Enak sekali ini! Seperti masakan ibu dulu-dulu! Malah lebih mantap!”