Saat Hati Harus Kembali Terbagi
cegah mas Hanan.
"Ta–pi ... jam berapa sekarang, Mas?" Lirihku. Mulutku terasa pahit sekali, sepertinya aku demam.
"Sudah jam tujuh pagi. Kamu istirahat saja dulu, Mas bikinin bubur biar kamu bisa minum obat," kata mas Hanan hendak bangkit.
"Ta–pi ... nanti kamu telat. Biar aku saja, Mas. Kamu siap-siap saja dulu. Aku bisa, kok!" kataku setengah memaksa.