LOGINธีรัช เซลล์แมนหนุ่มฝีมือฉกาจ ผู้มีทั้งเสน่ห์และวาทศิลป์เป็นอาวุธ อดีตเคยเป็นเพียงเด็กกำพร้าที่ต้องดิ้นรนไต่เต้าจนสามารถมีชีวิตที่มั่นคง แต่โชคชะตากลับเล่นตลกกับเขาอย่างโหดร้าย คืนหนึ่ง หลังจากดื่มสังสรรค์กับลูกค้า เขากลับประสบอุบัติเหตุร้ายแรง และเมื่อลืมตาขึ้นอีกครั้ง กลับพบว่าตัวเองไม่ได้อยู่ในยุคเดิมอีกต่อไป เขากลายเป็น "ไอ้อิน" ทาสหนุ่มแห่งเรือนข้าราชการในยุครัตนโกสินทร์ตอนต้น ร่างกายกำยำแต่สถานะต่ำต้อย ยังไม่ทันตั้งตัวดีธีรัชก็ได้ทราบว่า อินเจ้าของร่างได้ไปรับรู้ความลับต้องห้ามของเจ้านายเข้าอย่างจัง! "หลวงพิชิตเดโช" หรือ "คุณเปรม" ขุนนางดูแลการค้าและการคลัง ผู้สูงศักดิ์ เฉลียวฉลาด และภักดีต่อราชสำนัก ในสายตาผู้คน เขาคือบุรุษรูปงามผู้เพียบพร้อมทั้งบารมีและอำนาจ แต่ภายใต้ภาพลักษณ์ที่สมบูรณ์แบบนั้น กลับมีความลับดำมืดที่ไม่อาจเปิดเผยแก่ผู้ใด... เขาเป็นชายผู้หลงใหลในบุรุษด้วยกัน! และบัดนี้ อิน ทาสหนุ่มที่มีวิญญาณของเซลล์แมนยุคปัจจุบัน กลายเป็นผู้ล่วงรู้ความลับนั้นโดยไม่ตั้งใจ! จากที่เคยเป็นเพียงข้ารับใช้ธรรมดา ชะตากลับดึงเขาให้เข้าไปพัวพันกับเรื่องราวที่ทั้งอันตรายและลึกซึ้งจนยากจะถอนตัว จนก่อเกิดความรักต้องห้ามขึ้น
View More“Adinda Dwi Ersalina, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”
Adinda tersipu mendengar pertanyaan indah yang diucapkan oleh laki-laki di hadapannya. Wajahnya berbinar bahagia mengalahkan sinar rembulan yang bertahta di langit malam. Dia tidak menyangka akan dilamar malam itu juga.
Ardiaz Alfarezel, selama beberapa bulan belakangan, nama itu sudah sering mengukir bahagia dalam jejak hidup Adinda. Perkara jodoh memang tidak bisa ditebak. Adin tidak menyangka hubungan mereka akan berlanjut sampai sejauh itu. Padahal awalnya pertemuan mereka terjadi sepintas ketika Adin melaksanakan tugasnya sebagai marketing di salah satu bank syariah.
Diaz adalah seorang pengusaha kuliner yang bergerak di bidang halal food. Interaksi sebagai nasabah dan karyawan bank membuat hubungan mereka perlahan berkembang lebih jauh. Lebih dari sekedar hubungan kerja sama dalam pekerjaan.
Adinda adalah seorang perempuan yang taat agama. Kecantikan budi pekerti dan kebaikan hatinya yang membuat Diaz selalu terpesona dalam setiap pertemuan mereka. Adinda cukup pandai dalam menjaga batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Hal itulah yang membuat Diaz semakin menaruh hormat kepadanya.
Bagi Diaz, tak mudah menemukan spesies perempuan seperti Adinda di zaman sekarang. Seolah hanya satu di antara seribu. Oleh karenanya, tak sulit bagi Diaz untuk memantapkan hati dan memilih Adinda sebagai pasangan hidup. Diaz berpikir Adinda akan menjadi rekan yang tepat untuk sehidup sesurga.
Diaz tidak ingin menunda niat baik terlalu lama. Apalagi dia tahu Adinda tak menghendaki adanya komitmen sebelum pernikahan. Meski begitu bukan berarti mereka tak melewati proses sebelumnya. Hanya cukup dalam dua bulan melakukan taaruf, mereka pun sudah bisa memantapkan hati masing-masing.
Akhirnya hari itu, Diaz memutuskan untuk langsung melamar Adinda. Walau belum mendatangi orang tua secara resmi, tapi Diaz ingin mengetahui jawaban Adinda terlebih dahulu. Jika memang perempuan itu bersedia, maka dia akan langsung datang ke rumah Adinda dengan membawa serta tanggal pernikahan mereka.
“Berikan jawabanmu, Adinda. Jangan biarkan cincin ini menunggu jarimu terlalu lama,” tegur Diaz mengembalikan kesadaran Adinda yang sempat menerawang jauh mengingat kembali pertemuan mereka. Diaz masih dalam posisinya dengan tangan terulur menunjukkan sebuah kotak beludru berisi cincin yang dia suguhkan untuk gadis pujaan hatinya.
“Apa kamu yakin aku akan menerimanya?” ujar Adinda justru balik bertanya. Namun pertanyaan itu lebih mirip seperti candaan.
“Aku pasrahkan semuanya pada Allah. Apa pun jawabanmu akan aku terima,” jawab Diaz. “Proses demi proses yang aku lalui untuk mengenalmu sudah cukup membuatku yakin untuk menentukan pilihan. Aku percaya bersamamu agamaku akan sempurna. Ini adalah ikhtiarku, Adinda. Hasil selanjutnya tidak akan lepas dari kehendak dan kuasa Allah. Sebagaimana kuasa-Nya pula yang mempertemukan kita dan menuntun hatiku untuk memilihmu,” imbuhnya membuat hati Adinda semakin bergetar mendengarnya.
“Kita hanya mengenal dalam rentang waktu yang singkat. Bagaimana jika ternyata aku memiliki kekurangan yang tidak mudah untuk kamu terima nantinya?” tanya Adinda.
“Setiap manusia tidak ada yang sempurna, Din. Bahkan manusia diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Aku tidak menuntut kesempurnaan dirimu. Dengan dirimu yang seperti ini saja sudah cukup bagiku. Aku akan ikhlas menerima segala kekuranganmu karena dalam rumah tangga ini nantinya yang aku harapkan hanyalah ridha Allah. Aku tidak akan mengeluhkan apa pun kondisimu,” jelas Diaz.
Adinda tersentuh mendengar ketulusan laki-laki yang baru sekitar dua bulan dia kenali. Sebenarnya tak sulit menerima pinangan seorang Ardiaz Alfarezel. Wajahnya yang tampan, karirnya yang mapan, serta budi baik yang dimiliki Diaz sudah menjadi alasan yang cukup untuk dijadikan seorang suami yang ideal.
Adinda sudah pernah melihat sendiri bagaimana Diaz selalu berusaha mengejar shalat di awal waktu. Diaz juga begitu hati-hati dalam mengelola usahanya dan memastikan mendapatkan pendapatan yang halal dari setiap pekerjaannya. Sejauh ia mengenal Diaz, Adinda percaya Diaz bisa menjadi seorang imam yang baik untuknya.
“Bismillah...dengan mengharap keridhaan Allah, insyaallah aku siap menerima lamaran Mas Diaz,” ucap Adinda mantap diikuti tatapan dan senyum sumringah di wajah Ardiaz.
Hari itu mereka berdua sangat bahagia. Hati rela untuk saling menerima satu sama lain. Bahkan Ardiaz tak ragu memberikan cincin yang dia bawa. Meski Adinda harus menyematkan sendiri cincin itu di jarinya karena mereka belum halal untuk saling bersentuhan.
Setelah kesepakatan itu, Adinda mempertanyakan kapan pastinya Ardiaz akan datang melamar secara resmi ke rumah dan menemui kedua orang tuanya. Ardiaz pun mengatakan akan melakukannya dengan segera. Adinda sempat khawatir tentang restu. Tapi Ardiaz meyakinkan bahwa orang tuanya sudah menyerahkan semua pilihan kepadanya.
“Lagi pula kalau tahu calonnya secantik dan sebaik kamu, aku yakin orang tuaku tidak akan menolaknya. Kamu akan menjadi menantu yang ideal di mata mereka,” kata Ardiaz membuat Adinda mengulum senyumnya.
“Jangan memuji berlebihan seperti itu,” balas Adinda. Setiap orang pasti ingin mendapatkan keluarga mertua yang bisa menerimanya dengan baik. Begitu pula dengan Adinda. Dia ingin memiliki orang tua kedua yang bisa menyayanginya seperti anak sendiri.
Tidak hanya tentang rencana lamaran resmi, pada pertemuan kali itu mereka juga sempat membicarakan tentang karir ke depannya. Adinda bertanya apakah dia masih boleh bekerja atau tidak setelah menikah. Bagaimana pun juga setelah berstatus sebagai istri seseorang maka dia harus patuh dan melakukan segala sesuatu atas izin sang suami.
Ardiaz paham sejak awal Adinda adalah seorang perempuan yang berwatak mandiri. Dia memberikan kebebasan pada Adinda untuk tetap menjalankan pekerjaannya. Dengan catatan tidak melalaikan tugas dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Adinda tersenyum lega. Dia memang yakin bahwa Ardiaz adalah laki-laki yang bisa memahaminya. Terbukti Ardiaz tidak mempersulit keinginannya untuk tetap bekerja. Bukan khawatir nafkah yang tak cukup, hanya saja Adinda merasa pekerjaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Malam itu tidak sekedar lamaran, mereka berdua seolah sedang merancang garis besar haluan rumah tangga mereka nantinya. Tentang karir, tempat tinggal, keturunan dan sebagainya. Mereka sepakat hal tersebut penting untuk dibicarakan sebelum pernikahan.
Setelah malam semakin gelap, mereka pun memutuskan untuk pulang. Ardiaz tidak mengantar Adinda pulang karena Adinda pun tidak akan setuju. Mereka hanya berdua dan tidak ada mahram lain yang menemani. Adinda tidak ingin hanya berduaan saja di dalam mobil.
Adinda memutuskan untuk pulang dengan taksi online. Ardiaz hanya bisa mengantarkan gadis pujaannya hingga masuk ke dalam taksi yang akan membawanya pergi. Lambaian tangan pun mengakhiri pertemuan mereka. Tak lupa pula janji Ardiaz untuk mendatangi kedua orang tua Adinda.
Adinda merasa sangat bahagia. Bahkan dia tetap tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil sembari memandangi cincin yang sudah melingkar di jarinya. Bahagianya membuncah membayangkan saat Ardiaz melamarnya beberapa jam yang lalu.
Belum usai senyum merekah di bibirnya, Adinda tiba-tiba dikejutkan oleh dering notifikasi ponsel. Adinda merogoh dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ada satu pesan masuk dari nomor yang masih tersimpan dalam daftar kontaknya.
“Rafli?”
หลังจากพักรักษาตัวอยู่ในโรงพยาบาลครบกำหนดสองวันตามคุณหมอสั่ง ธีรัชก็ได้กลับมาที่บ้านของตนเองอีกครั้ง บ้านที่เขาควรจะเคยคุ้นแต่กลับรู้สึกแปลกตา เหมือนกลายเป็นแค่ฉากในละครที่ไม่ได้ฉายให้ใครดู เขาเดินช้า ๆ ผ่านห้องนั่งเล่น มองเครื่องใช้ไฟฟ้า เครื่องครัวล้ำสมัย ตู้เย็น ทีวี และโซฟานุ่ม ๆ ที่เคยนั่งดูซีรีส์กับตัวเองในทุกคืนวันศุกร์จนลากไปเช้าของอีกวัน... ชีวิตที่สะดวกสบายและบ้านหลังใหญ่โตที่เขาสร้างมันขึ้นจากน้ำพักน้ำแรงของตัวเอง ด้วยความภาคภูมิใจที่แต่ก่อนเขาต้องรู้สึกดีใจและมีความสุขทุกครั้งที่ได้กลับมาเหยียบที่แห่งนี้แต่ครั้งนี้ทำไมมันกลับไม่อุ่นเหมือนอ้อมแขนของใครบางคนที่เขาคิดถึงจับใจ หรือเพียงเพราะโลกใบนี้ ไม่มีคุณเปรมอยู่ด้วย...ธีรัชนั่งลงกับพื้นเบา ๆ ตรงระเบียงหลังบ้าน ลมฤดูหนาวพัดแผ่วผ่านใบหญ้า เสียงนกกระจอกยังคงร้องเจื้อยแจ้วไม่รู้วันเวลาผ่านไปแค่ไหนสำหรับพวกมัน ต่างจากหัวใจของธีรัชที่เหมือนหยุดเดินตั้งแต่วันนั้น วันที่เขาจาก “บ้าน” หลังหนึ่งในยุคต้นรัตนโกสินทร์กลับมาเขาหลับตา สูดลมหายใจเข้าเต็มปอด แต่ก็ไม่ได้กลิ่นดอกมะลิที่เคยหอมกรุ่นในยามเช้า กลิ่นหอมน้ำอบไทยที่มักจะติดต
ทินกรรุ่งอรุณ แสงแดดอุ่น ๆ สาดผ่านม่านผืนบาง ละไล้ลงบนใบหน้าของอินที่ยังนอนนิ่งอยู่บนเตียง เปรมยืนอยู่มุมห้องอย่างเงียบเชียบ จนเมื่อหมอที่เขาเรียกมาตรวจอาการเดินออกมาจากห้อง อินหันไปมองด้วยสายตาเป็นกังวล“เขาเป็นอย่างไรบ้างขอรับท่านแพทย์?” เสียงเปรมเต็มไปด้วยความห่วงใยแพทย์หมอถอนหายใจเบา ๆ ก่อนเอ่ยคำวินิจฉัย “จากที่ฉันตรวจดูทั้งหมดแล้ว คิดว่านายคนนี้น่าจะแพ้พิษบางอย่างที่สะสมในร่างกาย และเพิ่งจะแสดงอาการออกมา โชคดีที่ตรวจพบเร็ว ฉันจัดยาไว้ให้แล้ว ให้กินเช้าเย็นนะหลวงเปรม”เปรมพยักหน้ารับด้วยสีหน้าเครียด“ที่สำคัญ ช่วงนี้อย่าให้เขาใช้ร่างกายหนัก ๆ ยิ่งถ้ามีไข้ พิษจะยิ่งกระจายเร็วขึ้น ต้องระวังให้ดี”“ขอรับ… ขอบพระคุณมากขอรับท่านแพทย์ขอบคุณจริง ๆ”คุณเปรมส่งหลวงแพทย์หมอจนลับสายตา ก่อนจะรีบกลับเข้าห้อง เขาเปิดประตูเบา ๆ เหมือนกลัวเสียงจะไปรบกวนคนป่วย บนเตียง อินนอนเอนพิงหมอนอยู่ก่อนแล้ว ดวงตากลมใสสบกับเขาอย่างแนบแน่น มีแววซุกซนผสมความอ่อนล้าอยู่ในนั้น“ไม่ต้องทำหน้ากังวลขนาดนั้นก็ได้นะครับ” อินพูดเบา ๆ น้ำเสียงพยายามกลั้วหัวเราะ “ผมสบายดีม๊ากก ตอนนี้ก็ไม่ได้รู้สึกอะไรแล้ว ไม่เป็นไรหรอกน
แสงแดดยามสายทอดผ่านม่านโปร่งบางภายในโถงของเรือนหลังใหญ่ เสียงจิบน้ำชาดังแผ่วเบาท่ามกลางความเงียบสงบที่อบอวลไปด้วยกลิ่นหอมของใบชาและมะลิอบแห้งเปรมนั่งเอนหลังบนเบาะรองตัวยาว ร่างกายที่เคยแบกรับภาระหนักอึ้งมาหลายวันคล้ายได้หย่อนคลายเป็นครั้งแรกในรอบหลายเดือน เขาสวมเสื้อผ้าเรียบง่าย ผ้าคลุมบางสีอ่อนพาดบ่า ใบหน้าเริ่มมีรอยอ่อนล้าจาง ๆ แต่แววตายังคงหนักแน่นและแน่วแน่เช่นเดิมอินนั่งอยู่พื้นข้าง ๆ มือหนึ่งหยิบหนังสือ อีกมือก็ไม่วายวางไว้บนขาของคนรัก พยักหน้าเบา ๆ รับฟังอย่างตั้งใจ แม้บทสนทนาที่เอ่ยออกมาจะชวนให้ใจสั่นไม่น้อย“อีกไม่กี่วัน…” เปรมเอ่ยเสียงเรียบ ขณะทอดสายตามองออกไปยังสวนหลังบ้าน“หลวงวิษณุจะถูกนำตัวไปประหาร พร้อมกับ พักพวกอีกสามคน”อินชะงักมือที่กำลังเปิดหน้ากระดาษ เสียงคำว่า “ประหาร” กระแทกเข้าหูราวกับสายลมหนาวเฉียบ เขาเงยหน้ามองอีกคน ดวงตาเต็มไปด้วยความตกใจ แต่ไม่ได้เอ่ยขัด เพราะเข้าใจดีว่านี่ไม่ใช่เรื่องของความแค้นส่วนตัวธรรมดา หากแต่เป็น ความยุติธรรมที่คนบาปสมควรได้รับเปรมวางถ้วยชาอย่างแผ่วเบา ก่อนจะหันมาสบตาอินตรง ๆ“ข้ารู้ว่าเจ้าหวั่นใจ แต่การลอบสังหาร เจตนาโค่นล้มอำนาจ
แสงแดดยามสายทอดผ่านหมู่เมฆลงมากระทบผิวน้ำในท่าเรือ เกลียวคลื่นเบาๆ ซัดกระทบข้างลำเรือสำเภาอย่างสม่ำเสมอ เสียงเชือกเสียดสีกับเสากระโดง สลับกับเสียงกลาสีเรือร้องสั่งงานก้องไปทั่วท่าเรือ เปรมยืนอยู่ที่หัวท่า ชุดเครื่องแบบขุนนางขอบทองดูขรึมขลัง เขากำลังไล่ตรวจตราสินค้าที่ถูกขนลงจากเรือ สำรวจบัญชีรายชื่อสินค้าจากแดนไกลพลางใช้แววตาเคร่งขรึมพินิจทุกรายละเอียดทว่ากระแสลมเย็นที่พัดมากลับนำพาบางสิ่งมาให้เขา กลาสีเรือชาววิลาทคนหนึ่งเดินตรงเข้ามาหา มอบจดหมายเก่าๆ ซองขาดปลายให้โดยไม่เอ่ยคำใด เปรมรับไว้ด้วยความสงสัย ครั้นเปิดจดหมายอ่าน ความสงบของเช้าวันนั้นก็ถูกฉีกทึ้งข้อความที่เขาได้อ่านนั้นสั้น เรียบง่าย แต่ราวกับเสียงระเบิดในอก> “รีบกลับมาดูผลงานข้าสิขอรับคุณพี่เปรม ก่อนที่มันจะตายน่ะ”เส้นเลือดที่ขมับเขาปูดพองขึ้น มือข้างหนึ่งกำกระดาษจนยับยู่ยี่ ขณะที่อีกมือแทบสั่นเทา ใจของเปรมกระโจนไปข้างหน้าเร็วกว่าความคิด เขารู้ดี ใครเป็นคนทำเรื่องนี้ได้ และมีเพียงคนเดียวเท่านั้นที่กล้าเยาะหยันเขาเช่นนี้ หลวงวิษณุ“รีบส่งกำลังตามจับหลวงวิษณุเดี๋ยวนี้!” เขาสั่งเสียงกร้าวกับทหารที่ติดตามมาด้วย" มันยังอยู่พ
เสียงฝีเท้าดังสม่ำเสมอบนพื้นไม้สักของตำหนักฝ่ายในเรือน เปรมเดินกลับมายังห้องพักชั้นบนอย่างเหนื่อยล้า แขนเสื้อถูกร่นขึ้นครึ่งหนึ่ง เหงื่อชื้นผุดบนหน้าผากแต่ไม่ทันได้ซับ เจ้าตัวก็ทรุดตัวลงกับเก้าอี้ไม้ฝังลายอย่างหมดแรงบนโต๊ะข้างเตียงมีจดหมายหนึ่งฉบับวางอยู่เรียบร้อย ลายมือเจ้าหนุ่มคนรักวางซองกระดาษไ
หลายต่อหลายวันผ่านไปไวเหมือนโกหก เพราะวันนี้กลับเป็นวันที่ต้องส่งคนรักออกไปทำงานไกลตัวเสียแล้ว รุ่งเช้าตรู่ แสงแดดแรกของวันทอดผ่านหน้าต่างเรือนไทยส่องสะท้อนกับผืนน้ำที่สงบเงียบ เสียงไก่ขันยังไม่ทันจางหาย อินก็ตื่นขึ้นมาอย่างรู้งาน เขาเตรียมน้ำท่าร้อนอุ่นอย่างพอดี กลิ่นมะลิจากเกลืออาบน้ำที่ตั้งใจผ
ประตูห้องบานไม้ปิดลงเบา ๆ พร้อมเสียงกลอนที่ถูกหมุน เสียงฝีเท้าของอินหยุดชะงักอยู่หน้าประตู ก่อนจะหันกลับมา“จะให้ผมหาน้ำให้ดื—”เขาพูดได้แค่นั้นก่อนที่ร่างกำยำจะถูกคว้าหมับเข้ามาในอ้อมกอดแน่นหนา กลิ่นน้ำอบอ่อนๆจากเสื้อลินินของคุณเปรมยังไม่ทันจาง ริมฝีปากอุ่นร้อนก็ประกบลงมาทาบปิดคำพูดของเขาแรงแต่ไม
พระจันทร์ลอยเด่นเหนือเรือนพัก เสียงกรอบแกรบของไม้เก่าที่ขยับตามลมเบาๆ แทบจะกลบเสียงหัวใจที่เต้นดังตุบๆ ของคนสองคนไม่ได้เลยอินขยับฟูกเข้ามาใกล้ขึ้นอีกนิด… แล้วก็อีกนิด จนได้กลิ่นน้ำอบอ่อนๆ จากเสื้อผ้าคุณเปรมที่พาดไว้มุมฟูก"วันนี้ข้าตรวจบัญชีจนตาแทบบอด" เปรมบ่นเสียงเบา ขณะเอนตัวลงข้างอิน แขนข้างหนึ