Ada satu momen yang selalu bikin aku mampir dan renung: penulisan sudut pandang orang kedua mudah terasa paksa kalau penulisnya nggak hati-hati.
Seringkali aku menemukan kesalahan paling umum yaitu menjadikan 'kamu' sebagai kata serba guna tanpa identitas. Penulis kadang mengira memakai 'kamu' otomatis bikin teks intim, tapi kalau nggak ada detail spesifik yang mengikat pengalaman itu ke karakter atau situasi, efeknya malah datar dan anonim. Selain itu, ada juga masalah head-hopping—berganti-ganti sudut pandang atau emosi tanpa transisi—yang bikin pembaca bingung siapa yang sebenarnya merasa apa. Kesalahan lain yang sering kutemui adalah membuat narasi penuh instruksi imperatif, misalnya terlalu banyak memerintah pembaca melakukan sesuatu, hingga terasa seperti daftar tugas bukan cerita.
Solusinya sederhana tapi nggak gampang: batasi penggunaan orang kedua pada momen yang memang butuh konfrontasi langsung, isi 'kamu' dengan detail inderawi dan kebiasaan sehingga pembaca merasa masuk ke tubuh tokoh, dan jaga konsistensi suara serta tempo. Aku paling suka saat orang kedua dipakai singkat dan tajam—misalnya untuk momen sadar diri atau twist—karena itu bikin efek emosional jauh lebih kuat. Kalau dipakai terlalu panjang, keintiman malah memudar. Aku masih terkesan tiap kali menemukan contoh yang berhasil, seperti penggunaan interaktif di beberapa visual novel yang benar-benar memanfaatkan keterlibatan pembaca sebagai perangkat cerita.