Imperfect Love
“Atau … bakmi, capcai, bihun, yang biasa di jual kalau malam begini? Biar cepat?”
“Aku mau mi instant.”
“Astaga, Hun.” Intonasi Byakta hampir saja meninggi, karena permintaan Yasmen. Dari gado-gado, kini berubah jadi mi instan dalam sekejap. Sungguh tidak masuk akal sama sekali. Namun, Byakta tidak dapat langsung menolaknya secara frontal, karena bisa-bisa Yasmen kembali menangis dan itu sungguh merepotkan. “Kan, nggak sehat.”