Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
BALAS DENDAM PRIA PENUH CINTA

BALAS DENDAM PRIA PENUH CINTA

Sebuah kain batik bali yang sangat cantik. Telenovela jam 11 siang sudah mulai tayang. Musik latarnya sangat indah, begitu juga dengan pemainnya yang cantik dan tampan. Pikirannya teralihkan dari Dominic pada telenovela sampai seorang pelayan rumahnya memberitahu ada yang datang. “Kalau begitu, Esme pergi, Ma!” katanya pada mamanya.
106.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 217 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Balada Duda - Janda

Balada Duda - Janda

Regantara menghampiri etalase terbuka itu. "Pakai apa, Pak?" tanya Rubi yang tanpa sengaja melirik tubuh tegap yang berdiri di sampingnya. Harum tubuh lelaki itu jelas menguar mengganggu penciuman Rubi siang hari ini. "Wangi," batinnya. "Ikan baladonya dan tumis toge," jawab Regantara. "Tempe mendoan?" tanya Rubi lagi sambil meletakkan lauk-pauk yang disebutkan Regantara tadi di sepiring nasi yang dia bawa.
1068.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.4K kali sebagai bala kanda
Tampilkan Ulasan (37)
Baca
+Pustaka
Anies
tiap kali part di Novel kak chida udah berada di angka 100 lebih, pasti di bikin deg²an takut tiba² ada kata end.. apa lagi semua tokoh udah bahagia dengan manisnya.. tapi semoga semua ini tidak cepat berlalu lah.. masih sayang banget sama keluarga masRe dan Rubi
Chida
Terimakasih untuk kebersamaan kita .... Seperti janji Chida, Chida memberikan Giveaway untuk beberapa pembaca yang beruntung dan mungkin saja itu kalian. Pantengin terus IG story Chida untuk tau siapa saja pembaca yang beruntung mendapatkan GA dari aku.... Salam Sayang buat kalian semua Chida
Baca Semua Ulasan
Aruna Putra Api

Aruna Putra Api

tambah Pramoda. “Hmm, Baladhara ya....”
1015.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 506 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Mandul

Mandul

"Tidak ada yang salah. Kau bilang itu semua cantik bukan? Kau wanitaku. Wanitaku patut untuk bahagia." "Tapi aku tak memiliki apapun untuk membalas semua kebaikanmu. Ini berlebihan. Kau tahu itu? Totalnya sekitar 1M! Dan kau memberikannya kepadaku secara cuma-cuma? Astaga! Kau bahkan sudah mengurus gugatan ceraiku. Aku tak pantas untukmu. Aku yakin, diluar sana pasti ada banyak gadis yang ingin mrnjadi wanitamu." Riri menekuk wajahnya. Jangankan untuk memberikannya keturunan, untuk membalas semua kebaikannya saja rasanya itu tidak mungkin.
105.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 109 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
SENDIAKALA

SENDIAKALA

Aku sudah mengirim doa, semoga saja sampai dengan cepat, sebagai bentuk rindu dan baktiku. “Azahra?” terdengar suara berat yang memanggil. Spontan aku menoleh, dan kala melihat siapa yang datang, aku bangkit dari posisi dudukku. Aku ingat betul siapa laki-laki berpawakan tinggi, putih, dan bermata sipit ini. Namanya Wangsasatya, laki-laki dari kalangan Cina Muslim yang dahulu adalah anak dari majikan Bapak. Kami saling mengenal baik, sebab Bapak sering mengajakku ke rumah besar itu, dan aku dengan Wangsasatya sering bermain di halaman luas rumah miliknya.
463 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 12 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Balas Dendam Sang Pendamping Setia

Balas Dendam Sang Pendamping Setia

Balkon menjadi saksi bisu proses keruntuhan yang tak bersuara. Ponsel di tangannya terasa berat. Bukan karena bobotnya, melainkan beban makna yang tersimpan di dalamnya. Nama "Alya" berkilau di layar, seolah-olah menari dengan kejamnya kebenaran. Bukan sekadar nama. Bukan sekadar kontak bisnis. Nama itu adalah retakan pertama dalam benteng kepercayaan yang Nayla bangun selama bertahun-tahun.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Balas Dendam yang Hening

Balas Dendam yang Hening

"Jangan sentuh tanganku!" "Itu satu-satunya yang kumiliki! Itu hidupku!" Nadira membanting tangan kananku ke atas meja. "Hidupmu?" Dia mencibir. "Seorang pembunuh tidak berhak bicara soal seni." Dia mengangkat palu tinggi-tinggi. Dari ruang kontrol, Alex menatap layar. Aku memandang kamera dengan putus asa. "Alex! Lihat aku! Ini aku, Valentina!"
3.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Bara Dendam Sagara

Bara Dendam Sagara

Ia meletakkannya di meja kecil di samping kursi Rangga. Rangga mengambil belati itu. Sentuhannya dingin. Beratnya seimbang. Buatan empu ulung. Ia memutar belati itu di bawah cahaya api. Tampaknya biasa, tapi saat matanya menangkap ukiran kecil di gagang tanduknya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Sebuah bunga. Ukiran teratai salju.
10983 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Balas Dendam Pangeran Bodoh

Balas Dendam Pangeran Bodoh

"Jalur ini tidak berakhir di hutan. Ia menyeberangi gunung dan menuju ke wilayah Bangsa Ek." Lyra terkesiap, sayapnya bergetar hebat. "Bangsa Ek? Bangsa pandai besi kuno yang katanya bisa menempa senjata dari jiwa bintang? Aku pikir mereka hanya dongeng untuk menakuti anak-anak peri!"
816 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Balas Dendam Dalam Cinta

Balas Dendam Dalam Cinta

Sekali lagi, maaf karena lancang mengirimmu pesan aneh ini. Tertanda, Andrea.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 197 kali sebagai bala kanda
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status