Kontrak Cinta, Luka Nyata
"Untuk Alya, yang tak pernah selesai … mungkin aku bukan rumah terbaik bagimu. Tapi, aku selalu ingin kamu tahu, cintaku tidak pernah habis. Kalau pun kamu memilih jalan yang tidak lagi melibatkan aku, biarlah buku ini jadi saksi bahwa aku pernah mencintaimu sepenuh hidup."
Alya menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ia memeluknya erat ke dada, seolah-olah dengan begitu ia bisa merasakan lagi hangat tubuh Tama. Tangisnya pecah, kali ini tanpa mampu ia tahan.
Malamnya, Alya duduk di balkon sendirian. Hujan tipis turun lagi, membasahi langit kota asing itu. Di pangkuannya, buku harian itu tetap ia genggam.
Hot Chapters