Luka Itu Bernama Kamu
“Anak itu… anak Luna?”
Sekar menatapnya lebih tajam kali ini. Ada kilatan singkat, seperti refleks melindungi sesuatu yang tak terlihat.
“Gara.”
Nama itu meluncur singkat, seperti perisai.
“Sagara Biru,” lanjutnya. “Anakku.”
Kata terakhir itu diucapkan dengan tekanan. Tegas. Seolah garis yang tak boleh dilangkahi.
Hening kembali jatuh di antara mereka. Bahkan suara kafe terasa menjauh, seakan dunia memberi ruang bagi dua orang yang terjebak dalam satu percakapan yang tak pernah benar-benar ingin mereka mulai.
ตอนยอดนิยม