Samaran Terakhir
Dan jadi, di tengah arsip rasa yang terhapus, ia menulis:
“Aku menyesal telah menghapusmu,
Aku menyesal tidak menulis rasa takutku,
Aku menyesal lebih memilih kemenangan dari pada kejujuran.
Tapi hari ini, aku menuliskan kalian semua kembali. Dengan jujur. Dengan takut. Dengan cinta.”
Cahaya meledak dari laci-laci. Lemari-lemari meleleh menjadi kata-kata, dan semua rasa yang pernah dibuang mulai menyatu menjadi aliran energi yang hidup bukan sebagai luka, tapi sebagai kekuatan narasi yang paling purba: kejujuran emosional.
Adrian memutar tubuhnya. Lena menggenggam tangannya erat.
“Sekarang, kita tahu kenapa dunia sempat runtuh,” gumamnya. “Karena kita menyembunyikan rasa yang paling manusiaw