Rindu yang Lupa
Lanjut Caca sembari membuka resliting tas ransel yang sedari tadi bersandar di pangkuan, ia masukkan ponsel dan
menutupnya kembali lalu beranjak.
"Apa salahnya memulai dari nol? Kamu tidak akan menggapai puncak tanpa merangkak dari bawah," kalimat Akhtar membuat kedua kakinya enggan pergi, "dan Ibumu selamanya akan menjadi kuli gendong." Kelanjutan kata yang menyayat, air liur tertelan getir. Ia berdiri, abai dengan botol di atas meja. Permukaan jalan masih basah, aroma hujan belum sirna seutuhnya, masih ada tetesan mengalir dari atap pertokoan.
الفصول الرائجة