Nilakandi
Diwana pun mengeluarkan ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Nilakandi dan mengetikkan satu bait kalimat kerinduannya.
‘Nilakandi... Aku hebat dalam menunggu, kamu tahu itu, kan? Apalagi kalau kamu yang jadi alasannya, aku suka. Karena itu, berdamailah dengan hatimu selama yang kamu mau. Aku selalu disini. Selagi yang kamu minta bukan perpisahan, akan aku kabulkan itu. Oh iya satu lagi, aku... rindu. Cepat kembali.’
Dengan senyum mengembang, Diwana mengirimkan pesan manis itu. Dua menit ia hanya berdiri di sana, menunggu notifikasinya berubah dari ‘terkirim’ menjadi ‘dibaca’.
Bab Populer