Hasrat Seorang Ipar
Tak lupa kuambil cutton bud yang berguna sebagai pengoles antiseptik tadi.
“Sep, aku bantu olesin salep ini ke keningmu, ya?” Aku meminta izin pada Septi. Gadis itu meletakkan kaleng minumannya dan mengangguk pelan.
Dengan telunjuk, kuoles perlahan memar di kening sebelah kiri Septi. Benjolannya lumayan besar, seperti kelereng dan berwana keunguan. Brengsek si Rosid. Beraninya sama perempuan. Meski aku tak pernah kenal dengan bajingan itu, sudah kubayangkan pasti dia adalah tipe lelaki jelek dengan mulut bau rokok dan alkohol. Sungguh menjijikan. Secantik Septi begini sungguh tak pantas pernah menjadi kekasih dari orang seperti itu.