Kutukan Mantan Terindah
“Kita butuh rehat. Yang benar-benar rehat. Nggak di rumah sakit, nggak di cafe, nggak di dalam kamar. Cuma kamu, aku, makanan ringan, dan langit terbuka.”
Zura diam sejenak. Ada jeda, bukan karena ragu, tapi karena hatinya terasa penuh. Setelah semua kekacauan yang mereka hadapi—teror, luka, malam-malam panjang di ruang rawat—sebuah piknik di taman belakang terasa seperti bentuk utuh dari kata ‘damai’.
“Kita bawa apa?” tanyanya akhirnya, menaruh dagu di atas punggung tangan sambil menatap Zain dengan mata berbinar.
ตอนยอดนิยม