Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
RADANIA

RADANIA

lanjutnya "Jadi kita mulai ngedatanya kapan?" "Hari ini, sama besok terakhir pendaftarannya." jawab Nando "Yaudah, udah gak ada lagi yang mau di bahas kan? gue mau ke kelas soalnya." ucap Dania lalu beranjak dari tempat duduknya
9.54.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
AKU ADA DI BELAKANG

AKU ADA DI BELAKANG

Beberapa saat Dewa kembali mengembalikan buku dengan halaman yang sudah terbuka. Di situ ada siswi berseragam SMP Nama: Ayudia Alamat: xxxxx Dan tulisan lainnya tentang pesan dan kesan selama masa orientasi. Ini adalah catatan pertama kali Ayudia masuk Sekolah menengah atas. Qiana menulis sesuatu di telapak tangannya. "Orang tuanya sudah pindah!" seakan tahu Qiana sedang mencatat alamat rumah Ayudia, Dewa bersuara menghentikan tulisan Qiana. Mereka saling melihat.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Di ujung penantian

Di ujung penantian

" Kata Alfa sambil mengerutkan dahinya. "Ga boleh suudzon, siapa tahu dia hanya butuh waktu buat sendiri." Ucap Rindu. "Ngomong-ngomong udah pada bikin soal PAS belum?" Tanya Alfa. "Aduh puyeng dah kalo ngomong PAS." Ujar Karim. "Enak tuh Rindu, kerja bisa semaunya sendiri, ga ada yang atur tapi duit teratur." Jawab Hima.
1010.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 220 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Jika Waktu Berakhir

Jika Waktu Berakhir

“Ada, nih!” Faiz nyengir. “OK, nggak deh. Udah kenyang. Aku tunggu jawabannya hari ini. Bye!” cowok itu kemudian pergi sambil cengar-cengir sendiri. Lusi terbengong-bengong. Dia tak mengerti apa yang terjadi. “Kalian ini ngapain sih sebenarnya?” Iskha hampir terlupa kalau ada Lusi. “Oh, nggak apa-apa kok, Lus.”
105.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 183 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Dendam dan Rahasia Tuan Muda

Dendam dan Rahasia Tuan Muda

Ini akan jadi pengalaman pertama dan terakhir Adhira menemani Kiara berbelanja, ikrarnya dalam hati. Hari menjelang petang, sementara matahari masih tergantung di ufuk barat sana. Jalanan makin padat. Hiruk pikuk perkotaan mewarnai sekeliling mereka. Adhira mengeluarkan ponselnya saat benda kecil itu berdering keras. “Adhi, ini Kuswan. Eh, kamu besok bisa datang kan?” “Hm, memangnya ada acara apa?”
1011.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 392 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Titik terakhir

Titik terakhir

Miko: "Udah sampai mana?" "Bentar lagi juga sampai di terminal,": Rani Miko:"Okey. Nanti kalau udah sampai kabari ya. Ini aku juga udah selesai kerja." "Iya,": Rani Secarik senyum mengembang beberapa mili. Chat singkat dari Miko membuatku limbung ke dasar angkasa. Kupikir Miko hanya membual ketika berujar hendak menjemput.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 115 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
KAU SESALI USAI KU PERGI

KAU SESALI USAI KU PERGI

"Sayang, bisa nggak kita bahas yang itu lain waktu? Sekarang udah Magrib, mendingan kita langsung pulang aja, ya," ucap Firdaus akhirnya. Asya nampak murung karena pertanyaan yang sudah sejak tadi ia lontar tak kunjung menemukan jawaban. "Iya, Nak, kita pulang dulu, ya. Kasihan Oma di rumah sendirian," ucap Rumi membuat Asya akhirnya hanya mampu mengangguk pelan.
1012.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 242 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
PERNIKAHAN KEDUA

PERNIKAHAN KEDUA

Kupandangi lagi tempat ini, tempat peristirahatan terakhir dirinya. Muhammad Zaidan Adhyaksa. Suamiku memang benar. Dia tak pernah dikalahkan oleh penyakitnya. Tapi, tetap saja, dia tak mampu menang melawan takdir. *** *i don't miss A thing - Aerosmith
9.721.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 595 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Resep Rahasia Sang Pecundang

Resep Rahasia Sang Pecundang

“Lebih dari lulus. Terima kasih, Drian. Untuk semuanya.” “Aku yang harus berterima kasih,” kata Adrian serius. Ia menepuk bahu Radit. “Kau menyelamatkanku dari diriku sendiri.” Mereka bertiga berdiri dalam keheningan yang nyaman, menyaksikan para tamu mulai meninggalkan ruangan. Sebuah babak baru yang penuh harapan terbentang di hadapan mereka. Perang melawan Ki Gendeng dan korporasi telah usai. Kini saatnya membangun kembali, menyebarkan kearifan, dan memastikan api itu tidak akan pernah padam lagi.
903 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai kusadari akhirnya
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status