Dua Tuan Tampan
Ia naik taksi menuju Galeri Senja, dengan perasaan campur aduk antara takut dan tekad.
Saat ia tiba, Galeri Senja sudah sepi. Lampu-lampu sudah dipadamkan, hanya menyisakan cahaya remang-remang dari luar. Bima sudah menunggunya di dalam, duduk di bangku panjang di depan mural yang mereka kerjakan bersama. Aura melankolis menyelimuti Bima, namun matanya memancarkan tekad yang kuat.
"Terima kasih sudah datang, Raina," kata Bima, suaranya pelan.
Bab Populer