Tafsir Waktu
Tanpa berkata, ia menunjuk ke lubang yang berada sekitar lima meter di samping kanan kami.
“Itu ceruk!” Teriakku kegirangan. Aku gegas berlari mendatangi ceruk itu. Alvar mengikutiku.
Sepertinya, dulunya ini adalah kolam. Aku melompat ke dalam ceruk, kuperiksa baik-baik, berharap ada sumber air yang bisa kurunut dari sini. Kutemukan sebuah lubang pipa di salah satu sisi ceruk. Kupasangkan mataku ke lubang pipa, gelap saja. Lalu kucoba memasukkan lengan ke pipa, tapi pipa itu justru lebur, jadi abu. Aku memanjat, keluar dari ceruk. “Tunggu di sini,” kataku pada Alvar.
Bab Populer