Suami Perkasa
Dinda menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan kaki dengan santai, seolah Mariana bukan ancaman.
“Jujur aja deh, Mar,” katanya sambil mengaduk es kopi. “Kamu tuh kelihatan kuper banget.”
Mariana mengangkat kepala perlahan. Otot rahangnya mengeras.
“Kuper?” ulangnya.
“Iya,” Dinda mengangguk mantap. “Kuper, cemburuan nggak jelas, dan… insecure.”
Ia mencondongkan badan sedikit. “Sama aku.”