Aku bukan yang Pamanku Mau
Ia duduk di samping Raiya, memperhatikan bahu sahabatnya yang naik turun tak beraturan, napasnya berat, matanya sembab, dan pipinya basah oleh air mata yang tak lagi diseka.
Raiya menatap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang hanya bisa ia pahami sendiri. Jemarinya menggenggam botol vodka dengan erat, buku-buku jarinya memucat. Ketika akhirnya ia menoleh, tatapannya kabur, suaranya bergetar.
“Nggak mau… aku nggak mau pulang… aku ingin minum…”
Rena langsung menegakkan punggungnya. Tangannya refleks meraih pergelangan Raiya, menahan botol itu agar tidak terangkat lagi.
Hot Chapters