Garis Waktu' adalah novel yang menggabungkan lirik puisi dengan narasi perjalanan fisik dan emosional. Fiersa Besari, melalui tokoh utamanya, menggali kompleksitas hubungan manusia dengan waktu, cinta, dan kehilangan. Ceritanya dimulai ketika protagonis memutuskan untuk melakukan perjalanan darat dari Jawa ke Sumatra, sebuah metafora untuk menyusuri kembali kenangan masa lalu. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan berbagai karakter yang masing-masing membawa potongan puzzle kehidupan, memaksanya untuk merefleksikan pilihan-pilihan yang telah dibuat.
Yang menarik dari novel ini adalah bagaimana Fiersa memperlakukan waktu bukan sebagai garis lurus, tetapi sebagai spiral yang terus kembali ke titik-titik penting dalam hidup. Adegan-adegan intim seperti percakapan di warung kopi atau di bawah langit malam menjadi wadah untuk dialog filosofis ringan tentang arti kehadiran dan ketidakhadiran. Novel ini terasa seperti membaca buku harian seorang musisi yang puitis, dengan ritme prosa yang kadang mengalun seperti lagu akustik.