ANAK TUKANG CUCI PIRING
Kupikir sebuah asmara di masa sekolah hanya lah membuang-buang waktu, menurutku rasa yang hadir itu hanya lah cinta monyet dan perasaan semu.
Sampai di mana, sewaktu aku menginjak kelas dua belas, lebih tepatnya di semester akhir, tak sengaja aku melihat Imas duduk di sudut perpustakaan tengah membaca buku milik Pramoedya Ananta Toer. Dalam kesendirian, sebelah wajahnya tersorot matahari sore, entah kenapa gadis itu belum pulang waktu itu.