Samaran Terakhir
“Bab selanjutnya hanya bisa ditulis jika kalian mau membaca seluruh masa lalu kalian… tanpa sensor.”
Seketika, ruangan itu berguncang. Buku abu-abu itu membuka sendiri, dan setiap halaman memutar ulang bagian terdalam dari ingatan Adrian: kesalahan, penyangkalan, kecemasan akan menjadi boneka narasi. Lena juga melihat dirinya sendiri—dari seorang sidekick tanpa suara, menjadi jiwa yang berani melawan bahkan narasi tertulis.
Satu demi satu, ingatan mereka menjadi cerita-cerita kecil. Tidak sempurna. Tidak puitis. Tapi nyata.