Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
CINCIN TAK BERTUAN

CINCIN TAK BERTUAN

HUJAN DAN DIA Melalui rintik hujan Ada sesuatu dalam pikiran Mengenang kisah tak terlupakan Telah terukir dalam ingatan Kita yang dahulu selalu ada Kini sirna bahkan tiada Terlalu mengikuti rasa Jenuh pun melanda Duhai ... Kekasih hati Mampukah diri ini pergi? Meninggalkan segala situasi Mungkinkah kisah kan kembali? Hujan mengungkit semuanya Kasih dan benci menjadi satu Ciptakan perih dan nelangsa Terlahirlah ragu Empat bait puisi itu mampu melunakkan hati. Kadang meratap tiada guna. Ahh, padahal hubungan dengan Arul baik-baik saja. Kenapa puisi itu seolah karena terluka?
109.0K viewsOngoingAdded to Library 252 Times as puisi teka teki
Read
+Library
PAPA MUDA

PAPA MUDA

PAPA MUDA 41 C Oleh: Kenong Auliya Zhafira Tiga puluh menit Dyra menghabiskan waktu untuk membaca. Setelahnya ia tergiur untuk membuat puisi. Entah kenapa tiba-tiba ingin menggoreskan sedikit perasaan hatinya melalui aksara. Bukan dalam bentuk cerita atau novel tetapi puisi sederhana yang mewakili isi hati. Tentang cerita, ia sudah lebih baik memahami tanda baca. Persis seperti memahami hati seorang Alsaki Mahendra. Keadaan sekitar bahkan terlupa karena asyik dengan dunianya sendiri. Hingga tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat, tetapi wanita yang tengah menikmati masa bebas itu masih acuh pada keadaan sekitar. Bahkan suara Cantika yang terdengar cempreng pun tidak menarik perhatiannya kali
108.9K viewsCompletedAdded to Library 337 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Old Fesbukers

Old Fesbukers

arga yang hijrah dari pulau Jawa dan menetap di tanah asing di sebuah kota kecil yang selalu dingin ini. Bila kau bisa ingat puisi-puisi yang ditulis ibumu dalam sebuah buku harian yang dia belikan untukmu? Kau akan tahu bagaimana rasanya kalau ada seseorang dengan gaya penulisan yang sangat mirip denganmu. Kau bisa membaca siratan maksudnya sejelas mengetahui arti dari sebuah pertanyaan dalam teka-teki silang. Bahkan sekalipun ibumu tidak pernah mengeluh, kau bisa membaca keluhannya melalui tulisan-tulisan itu. Jadi ketika dalam buku puisi yang sama, kau menemukan sebuah puisi yang mengisahkan tentang sebuah cinta terlarang, maka kau akan bertanya-tanya untuk siapakah puisi yang ditulis Ema
102.7K viewsOngoingAdded to Library 53 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Secangkir Teh Untuk Suamiku

Secangkir Teh Untuk Suamiku

Sesaat kemudian, dia bersuara. “Tehnya harum sekali,” ucapnya ringan, senyumnya tipis. Lalu dia mengangkat cangkir setinggi mata. Suaranya sedikit lebih keras agar didengar banyak orang. “Tahu tidak, ada cerita. Ada orang yang bisa meninggal hanya karena secangkir teh.” Beberapa kepala langsung menoleh. Suasana yang semula hanya hening berubah jadi kaku. Raksa menambahkan dengan nada nyaris santai, “Konon, kalau teh dicampur dengan sedikit zat tertentu, hasilnya bisa mematikan dalam hitungan menit.”
105.1K viewsCompletedAdded to Library 111 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Purba Sang Pemuas

Purba Sang Pemuas

"Kalian pasti bohong sama aku! Kalian nyembunyiin rencana jahat itu, kan?! Aku tadi lihat jelas pakai mata kepalaku sendiri kalau jiwa kecilku terkurung di dalam sana. Dia dipaksa ngulangin pertarungan mematikan tadi terus-menerus tanpa ada waktu istirahat sama sekali! Mending serahin batu sihir itu ke aku sekarang biar kuinjak sampai hancur!" "Eh!" Sisca buru-buru menyembunyikan ponsel pintar itu masuk ke balik belahan dadanya yang montok. "Sembarangan banget mau main injak barang mahal orang seenak jidatmu sendiri. Ini HP keluaran terbaru, harganya puluhan juta tahu! Ini murni teknologi masa depan, alat canggih buat ngerekam kejadian sehari-hari tanpa ada unsur mistis. Singkirin jauh-jauh
10.4K viewsOngoingAdded to Library 416 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Pengagum Rahasia

Pengagum Rahasia

"Hah... Hah... Tidak!" Rara terbangun dengan napas tersengal-sengal, ia seperti habis lari marathon padahal dirinya hanya bermimpi buruk. Gadis itu masih berbaring dengan mata melotot, keringat membasahi pipinya dan ia merasakan badannya sedikit pegal. "Cuma mimpi..." gumamnya sembari perlahan bangun. Rara masih duduk di atas kasurnya, “Aduh, pegal sekali. Kenapa aku mendadak pegal linu begini?”
102.4K viewsOngoingAdded to Library 50 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Poison (Racun untuk Maduku)

Poison (Racun untuk Maduku)

mataku terbelalak melihatnya. "Ya." "Aku butuh yang lebih banyak dari ini, Mbah. Ini kan hanya setetes," ucapku. "Mbah dan Nyimas hanya bisa memberimu setetes. Poison itu tidak akan langsung mematikan korban, tetapi akan membuatnya menderita perlahan-lahan sampai kau puas. Kamu jangan khawatir, nanti setiap madumu meneteskan air mata, botol bening itu akan terisi lagi oleh setetes poison. Dan kau bisa gunakan keesokan harinya. Begitu seterusnya, sampai kau puas mempermainkan penderitaan madumu," jelas Mbah.
107.9K viewsCompletedAdded to Library 220 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Inilah puisi yang akan ia bacakan di depan semua peserta lomba. [Terbangun aku di negeri asing tanpa peta, Di mana napas beraroma racun dan prasangka. Kulihat sepasang mata sehitam jelaga, Menatapku benci, sekaligus merengkuhku dari putus asa. Kau adalah rahasia yang dibawa angin senja, Lekas berubah arah, namun meninggalkan rindu yang begitu nyata....]
1014.5K viewsCompletedAdded to Library 289 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Days to Remember

Days to Remember

ucap orang tidak tahu diri yang tiba-tiba mengganggu percakapan mesraku dan Ani. "Riski, udah baca mading belum?" sergah Ani begitu bersemangat, aku dag-dig-dug serr jadinya. "Udah, puisinya bagus. Tapi, aku nggak ngerti hehehe harusnya ada gambar pelanginya juga tuh biar lebih bermakna ...," ucapnya menggaruk leher. "Issh, puisi itu tentang, tentang ... tentang suatu yang menunggu sesuatu, iya 'kan, Na?" ujar Ani gugup sesaat dan melemparkan pertanyaan padaku.
102.7K viewsOngoingAdded to Library 103 Times as puisi teka teki
Read
+Library
Mr. Airlangga

Mr. Airlangga

Ucapku tidak sabar. Dia termenung, memandang ke arah lempeng itu lagi. “Saat ini, aku belum tahu. Aku harus memecahkan teka-teki yang tersirat di sini.” Ternyata orang jaman dulu senang bermain riddle, atau teka-teki. Bukannya memberikan informasi langsung ke inti, tetapi memberikan sepotong-sepotong, di tempat berbeda-beda pula. Aku tidak suka orang-orang jaman dulu. Mereka harus belajar untuk berbicara pada inti permasalahan.
1010.0K viewsOngoingAdded to Library 250 Times as puisi teka teki
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status