Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Wanita Penggoda

Wanita Penggoda

Aku membuatkan secangkir kopi. “Mas Ambaaang ... nih Lalan bikinin kopi.” Ucapku meletakan secangkir kopi di atas meja. Mas Bambang tersenyum manis. Sangat menawan. Aku duduk berhimpitan. Menggesekkan buah dada ke lengan kanannya. Setelah beberapa kali meniup kopi tersebut, Mas Bambang menyesapnya perlahan hingga tetesan terakhir. Usai meminum kopi, selang lima menit obat itu pun beraksi.
108.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 288 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Purba Mahkota

Purba Mahkota

“Rokok … kopi. Ahh, … rokok dan kopi, aku tak bisa hidup tanpa kalian~” Meracau tanpa henti terkait rasa tergiurnya akan bayangan rokok serta kopi yang terasa nikmat untuk didapatkan segera, Pepita baru menyadari bahwa gumaman dirinya itu agak sedikit mengganggu sang teman sebangku. “Ah, maaf, Sumi. Apa itu mengganggu konsentrasimu?” tanya Pepita dengan harap-harap cemas seraya memusatkan perhatiannya kepada teman kelas di samping bangkunya itu.
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Cinta Terlarang Sang Mafia

Cinta Terlarang Sang Mafia

"Ok, Isabella. Apa boleh kita mulai sekarang?" Isabella tersenyum gugup, "Oh iya boleh." Brian tampak menggulung lengan kemejanya setengah sebelum mengambil toples berisi biji kopi berwarna coklat gelap. "Ini biji kopi Arabika. Biji kopi Arabika sering dipakai untuk membuat espresso karena rasanya lebih kompleks dan aromatik." Isabella menganggukan kepalanya. "Oh, begitu. Apa buat espresso hanya bisa pakai biji kopi Arabika?" tanya Isabella yang penasaran.
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
S.T.M. (Siaran Tengah Malam)

S.T.M. (Siaran Tengah Malam)

Secangkir berisi bubuk kopi siap diseduh. “Dedemit Bopeng menyuruh kamu bikinin kopi?” tanya Sisil. Gadis itu menuang air panas ke dalam cangkir. Aroma wangi kopi instan menguar keluar. Bulu kuduk Jessie malah meremang. Ia tak begitu suka kopi. Lambungnya tak kuat. Sekarang saja perutnya mulai berasa begah. Tidak enak. Gara-garanya ya dipaksa minum kopi sama si Dedemit Bopeng itu tadi!
1021.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 683 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan

“Aku gak bisa kasih nasehat apapun cuma satu yang mau aku kasih tahu ke kamu.” “Apa?” “Minumlah kopi.” Aku mengernyit, tak paham maksud dari perkataan Wahyu. “Aku udah sering minum kopi, Yu. Apa yang spesial dari kopi selain pahitnya.” “Banyak, salah satunya efek setelah menikmati kopi yang pahit.” Aku semakin bingung dengan maksud Wahyu. “Aku belum paham, Yu?”
1033.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 876 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Terjerat Cinta Pesepakbola Tampan

Terjerat Cinta Pesepakbola Tampan

Bibi Liu tersenyum lembut dan bergegas merebus air panas untuk membuatkan secangkir kopi kesukaan Sasmaya. "Jangan kopi Bi. Teh saja dengan lemon." Sasmaya mengingatkan sebelum wanita setengah baya itu menuangkan bubuk kopi ke cangkir yang baru saja diambilnya dari rak. "Oke," sahutnya lirih. Sedikit merasa heran karena biasanya Sasmaya selalu memintanya menyiapkan kopi. "Aku tidak bisa hidup tanpa kopi. Bagiku kopi adalah canduku." Begitulah wanita cantik itu pernah berkata.
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Makin Tua Makin Cinta

Makin Tua Makin Cinta

Persetan dengan berapa kopi yang Hana tuangkan ke dalam gelas. “Emang gue peduli mau berapa sendok kopi, berapa sendok gula? Emang gue peduli mau rata sendok atau enggak?? Emang gue peduli mau berapa kali ngaduk? Emang gue peduli mau searah putaran jam atau putaran bumi?! Denger ya bos anj1nggg!!! Gue nggak peduli. HUHHH…. MAKAN TUH KOPI!! NAMANYA KOPI YA TETAP KOPI.”
6.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 190 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Jatah Secangkir Beras Di Rumah

Jatah Secangkir Beras Di Rumah

Aku mendongak dengan kening mengkerut melihat penampilan mas Ilham. "Mas, mau kemana?" Tanyaku keheranan. "Banyak tanya! Mana kopiku?" Bukannya menjawab, ia malah menanyakan kopi. "Nggak ada, habis." Jawabku. Lalu kembali ke dapur untuk mengambil piring. "Gimana bisa habis? Duit yang kemarin aku kasih, masa cuma buat beli kopi doang nggak ada sisa?" Lelaki itu membuntuti ku.
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

Hanya keheningan. Ia menatap cangkir di tangan, lalu tertawa kecil. “Lihat nih, Bar,” gumamnya, “aku akhirnya bisa bikin kopi tanpa tumpah. Tapi kok nggak seseru biasanya, ya?” Kopi itu dingin sebelum habis. Hari itu di kantor, Siska mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Draft desain baru menumpuk di mejanya, tapi pikirannya entah di mana.
792 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 24 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Cinta Di Ujung Botol

Cinta Di Ujung Botol

Hanya suara air menetes dan desah napas yang tersisa. Beberapa saat kemudian, Rio mengenakan pakaian seadanya, bagian bawah tubuhnya masih dibalut handuk. Dari balik dinding, Alinda muncul sambil membawa dua cangkir. "Kopi hangat ini bisa membuatmu rileks," katanya, menyerahkan satu ke Rio. Mereka duduk di beranda vila. Langit sore di atas kepala mereka, penuh warna jingga keemasan. Sesekali suara burung di sore hari terdengar dari kejauhan.
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai puisi tentang kopi singkat
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status