Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ayah Untuk Danish

Ayah Untuk Danish

Berlomba-lomba dengan hujan, siapa yang lebih dulu menyapa bumi. Setelah melaksanakan solat malam, Senja berdiri di samping jendela kecil dengan gorden yang sedikit tersibak. Betah berlama-lama di sana. Seolah sengaja membiarkan hujan menghapus jejak masa lalu, seperti beberapa sampah plastik yang terbawa aliran air.
105.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 160 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
MELACUR KARENA TERPAKSA

MELACUR KARENA TERPAKSA

"Biarkan saja cinta ini mengalir, seperti air yang mencari jalannya sendiri. Senja, jangan pudar pesonamu! Biar kunikmati hadirmu sendiri di sini. Aku ingin melukis jingga di matanya. Aku harus berjalan bersama bunga mimpiku, yang selama ini membayangiku." Kamilia memutar-mutar pensil di tangannya. Terpaku dalam sepi, membisu dalam sunyi. Hari kian beranjak sore. Senja yang yang biasanya terlihat indah dari jendela, kali ini tidak muncul. Hujan terlalu egois untuk memunculkan cahaya senja sebentar saja.
1015.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 513 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Senja Yang Di Hadirkan

Senja Yang Di Hadirkan

Bahkan, tentang si kembar yang merupakan anak kandung Senja. Senja tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ia menunduk, lalu perlahan membetulkan selimut di dada perempuan tua itu. Dalam hati, ia tahu bahwa tak semua luka bisa disembuhkan waktu. Ada yang hanya bisa diterima dengan air mata dan penyesalan yang tak pernah habis. *
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 203 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
My Handsome Partner

My Handsome Partner

kata Senja "Baiklah, Sen. Besok akan kutemani kau berkeliling," kata Ella "Terimakasih," jawab Senja yang kemudian terlelap tidur hingga pagi sampai akhirnya ia terbangun karena mendengar suar juza isak tangis seseorang. "Siapa yang menangis?" Kata Senja lirih memaksa matanya terbuka sembari melihat sekeliling
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 122 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Biduk Cinta Senja

Biduk Cinta Senja

ucap Langit sambil menatap tajam ke arah Barman dan Niken. Kedua bola mata Barman dan Niken membulat sempurna, saat mendengar apa yang di katakan Langit. Ingatan membawa mereka ke masa lalu yang menyakitkan untuk Senja. "Ka--kamu. Kamu, Senja." ucap Barman dengan gugup. "Tepat sekali. Dia Senja. Gadis kecil malang yang telah kau hancurkan hidupnya," ucap Langit semakin kesal.
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Senja Pertama

Senja Pertama

Itulah keinginan pertama Nana saat ia bisa melihat lagi, melihat senja pertama dengan orang yang dia cintai. Matahari dipucuk peraduan. Sinar jingga menyapu seluruh pantai dan laut di depan Nana dan Sendanu. Pantulan bayangan yang terbentuk di air semakin membuat indah senja sore itu. Kebahagiaan Nana telah kembali bersama dengan senja pertama yang datang lagi dalam hidupnya.
7.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 258 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Surat dari Azza

Surat dari Azza

"Dia selalu berjanji kembali dengan berjuta cerita." "Hanya senja yang mengerti semuanya. Senja akan menjawab semua cerita kita dengan ke indahan warnanya. Aku pernah membenci senja. Di saat senja telah berganti warna dengan gelap, di situ aku takut. Takut banget, sampai setiap malam aku nangis. Aku takut hidup ku juga akan ikut gelap." Hening sejenak. Hanya suara ombak yang tedengar. Pandangannya tetap lurus menatap cahaya orange yang indah. Azza melanjutkan kembali ucapnya, "kak Andra lihat, cahaya senja itu menenangkan. Setiap hari aku hanya menanti senja--"
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Pelangi atau Senja

Pelangi atau Senja

Entah apa yang telah terjadi, perasaan untuk berhenti dan mengundurkan diri sering datang akhir-akhir ini, kadang merasa sulit, kadang tidak tenang, kadang merasa bersalah dan perasaan buruk lainnya yang mengganggu dan mengusikku. Sore itu cuaca terlihat, dengan cepat aku menyelesaikan pekerjaanku, ingin rasanya cepat pulang lalu pergi ke pantai untuk menikmati senja, senja yang selalu kurindukan sejak pertama aku menginjakkan kakiku di tempat ini, di mana aku bisa menikmati kesendirianku tanpa seorang pun
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Di Ujung Senja

Di Ujung Senja

"Aku juga sudah nggak mau benci kamu lagi, nggak ada gunanya. Biarin semuanya berakhir dan kembali menjadi debu." Kebencian adalah hal yang sangat menguras tenaga dan energi, pria ini sudah tidak layak mendapatkan perhatianku sedikit pun. Andi menatapku rumit. Dia terdiam sambil mengambil kapas lidi yang sudah dibasahi air untuk mengolesi bibirku yang kering, matanya perlahan mulai memerah. "Cintaya, kamu bakal sembuh kok. Tolong, kamu harus benci aku sekuat tenaga dan balas dendam sama aku, nanti kamu boleh lakuin apa pun yang kamu mau, oke?"
12.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 424 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Sepuluh Senja Terakhir Asa

Sepuluh Senja Terakhir Asa

Regan melingkarkan tangannya ke pinggang Sei. "Tergantung dulu waktu senja aku lagi sama siapa. Kalo sama kamu ya ga buang-buang waktu. Kalo sama yang lain liatin senja kaya gini ya buang-buang waktu aku." Jelas Regan panjang. Sei tersenyum pahit, cewek cantik itu menyampirkan rambutnya ke telinga. "Kalo suatu saat kamu lihat senja bukan sama aku, gimana?" Sei memeluk lengan Regan.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai puisi tentang senja
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status