Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Memories in High School

Memories in High School

"Oke, untuk kali ini Bapak dan Ibu masih kasih toleransi untuk kalian. Kalau begitu, kembali ke tenda masing-masing." Hai gaes, apa kabar? Cerita ini aku buat bukan untuk menjelek-jelekkan atau membandingkan antara dua jurusan ya Ambil sisi positifnya dari cerita ini 💝 Jangan lupa share cerita ini ke temen-temen kalian🧡 Supaya ramai ❤ See you next part 💜 Salam literasi 💙
4.3K viewsOngoingIdinagdag sa Library 153 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Pagi yang Enggan Kembali

Pagi yang Enggan Kembali

Dia sedang mencoba ikhlas, dan terus akan begitu. Ibarat makanan, kasus itu mungkin dapat dibilang kadaluarsa. Benar-benar terlupa. Bukan saja Ria yang menyerah bertindak, keluarga di rumah pun makin tak punya muka untuk terus menuntut. Mereka semakin diabaikan. Maka keputusan pun jatuh pada pilihan yang sama: mengikhlaskan.
1.4K viewsOngoingIdinagdag sa Library 52 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Belahan Jiwa

Belahan Jiwa

ucapku terisak tak bisa menahan air mata. “Maaf Bu, kami sudah mengusahakan yang terbaik buat Bapak. Tuhan berkehendak lain.” Kata-kata yang terdengar di telinga Risa. “Bapak!” teriak Risa, “Jangan pergi, nanti siapa yang akan membangunkan Risa setiap minggu pagi,” lanjutku sambil terus terisak.
103.3K viewsOngoingIdinagdag sa Library 85 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Hati yang Tersakiti

Hati yang Tersakiti

Telepon Kiara tidak diangkat dan pesannya tidak dibalas—ataupun dibaca—oleh Ray. Hati Kiara pun gundah. Hal-hal buruk menyusup ke dalam pikirannya. Apalagi tayangan berita kali ini sedang mengabarkan sebuah mobil yang mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol. Lalu berita berikutnya mengenai sebuah pabrik petasan yang terbakar. Bagaimana kalau mobil yang ditumpangi Ray tergelincir di jalan tol? Atau mungkin pabrik di Bandung kebakaran?
1037.9K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 1.2K Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu

Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu

Clara sendiri juga sudah menghabiskan tiga tahun untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan ini. Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Kesabaran dan toleransi seseorang juga ada batasnya. Kalau sudah nggak sanggup, ya nggak akan bertahan lagi." Nada bicaranya tetap lembut dan tenang. Miara menatapnya dengan perasaan iba. "Bu Clara, Ibu itu orangnya baik sekali. Suatu hari nanti, Pak Rendra pasti akan menyesal."
9.749.0K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 1.5K Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Suatu Senja di Tanah Senja

Suatu Senja di Tanah Senja

Ana: “Saya tak akan pernah mengkhianati teman saya apa pun risiko yang harus saya tanggung.” Karman: “Aku pun tidak akan pernah mengkhianati istriku apapun risiko yang harus harus kutanggung. Paman Kardi: “Aku tidak takut mati, aku hanya tak sudi dianggap lelaki pengecut.” Pramoedya: “Walau dunia mengutukku aku tetap akan menyuarakan pendapatku. Karena aku manusia bebas.” Tan Djiman: “Malaikat mulia karena toleransinya, iblis terkutuk karena ketidakpeduliannya, dan aku tidak mau menjadi manusia bodoh yang selalu bersengketa tentang dua hal itu hingga akhir hidupku.”
105.2K viewsOngoingIdinagdag sa Library 176 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

Sebulan setelah transmisi terakhir, sesuatu yang kecil terjadi. Salah satu anggota Hub yang lebih muda, seorang penyair bernama Isha, sedang mengerjakan sebuah puisi tentang kehilangan. Dia berjuang dengan baris terakhir, merasa bahwa kata-katanya terlalu klise, terlalu tidak tulus. Frustrasi, dia menyerah dan pergi untuk mengambil secangkir teh.
916 viewsKumpletoIdinagdag sa Library 30 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Istri yang Kau Sakiti, Tak Ingin Kembali Lagi

Istri yang Kau Sakiti, Tak Ingin Kembali Lagi

Di sinilah mereka membuka seluruh data transparansi Phoenix, menunjukkan ke publik bagaimana teknologi mereka digunakan untuk kebaikan. Akira menjadi pembicara utama, meski sedang hamil lima bulan. Di hadapan 7.000 hadirin dan 50 juta penonton online, ia berkata: “Musuh kita bukan hanya Leviathan. Musuh kita adalah keserakahan, ketakutan, dan keinginan mengendalikan manusia tanpa empati. Phoenix of Gold berdiri bukan untuk mendominasi. Tapi untuk menjaga nilai manusia tetap utuh di tengah badai digital.”
104.4K viewsOngoingIdinagdag sa Library 127 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

Dan ia mulai membaca puisi: --- > “Sunyi tidak berisik, tapi menyentuh. Ia tidak datang karena diminta, tapi karena dibutuhkan. Sunyi tidak menyelamatkan, tapi menemani. Dan hari ini, aku tidak ingin didengar dari atas. Karena rumah yang kami bangun tidak punya lantai dua. Semua duduk sejajar. Semua pulang dengan tenang.” --- Beberapa terdiam. Beberapa bingung. Sebagian menatap tanpa berkedip. Tak ada tepuk tangan. Tapi suasana menjadi sangat hening.
101.7K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 34 Beses bilang puisi toleransi
Read
+Library
PREV
123456
...
10
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status