Membaca trilogi 'Rara Mendut' itu seperti menyelami sejarah Jawa dengan sentuhan sastra yang memukau. Y.B. Mangunwijaya, atau yang akrab disapa Romo Mangun, menciptakan mahakarya ini dengan kedalaman filosofis dan nuansa budaya yang kental. Aku selalu terkesan bagaimana ia memadukan mitos, realitas sosial, dan kritik halus terhadap feodalisme dalam alur ceritanya.
Sebagai seorang yang tumbuh dengan cerita-cerita Jawa, aku merasa Mangunwijaya berhasil menghidupkan kembali semangat Rara Mendut sebagai simbol perlawanan perempuan. Gaya bahasanya yang puitis tapi tajam membuat setiap adegan terasa hidup, seolah kita menyaksikan langsung drama sejarah itu. Karya ini bukan sekadar novel, tapi warisan literasi yang harus dibaca oleh generasi sekarang.