ISTRI PERTAMA SUAMIKU
Kutinggalkan rumah besar itu, rumah yang terasa damai dan teduh, karena selain ditumbuhi oleh pohon-pohon yang rimbun, disana tinggal seorang manusia berhati malaikat.
Ayah, Ibu, aku ingin pulang. Air mataku meleleh tanpa kusadari. Cepat kuhapus sebelum ada yang melihat. Aku berjalan kaki menyusuri komplek perumahan elite ini, yang untungnya sepi di jam istirahat siang. Betapa beruntungnya mereka yang tinggal di dalam sini, terlindung di balik tembok rumah yang kokoh, sejuk dan nyaman, tanpa perlu merana memikirkan masa depan yang tak pasti.