Angin di Antara Kita
Ia memandang ke langit, lalu menulis di buku kecilnya:
“Mungkin cinta kedua bukan untuk menandingi yang pertama. Tapi untuk mengajarkan bahwa hati bisa tumbuh lagi, meski pernah hancur.”
Ia menutup buku itu perlahan, lalu menatap langit. Ada senyum di wajahnya—bukan lagi senyum yang menahan tangis, tapi senyum yang benar-benar tulus.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla merasa hidupnya tidak berhenti di masa lalu. Ia melangkah lagi. Pelan, tapi pasti.
Dan di kejauhan, di tempat lain, Elhan berdiri di depan toko buku yang menjual novel Nayla. Ia membeli satu eksemplar, lalu membacanya sambil duduk di kursi taman.
Hot Chapters