Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita

Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita

Lagipula, sulit untuk membayangkan rupa seseorang hanya dengan menyebutkan ciri-ciri yang terdengar umum. Setelah banyak berpikir, akhirnya Tuan Kedua Wu kembali ke rumah sewanya dan membuat sketsa di atas kertas berdasarkan ingatannya. Saat ia memperlihatkan sketsa itu pada Cha Min, pemuda itu hanya melihat sekilas pada kertas di atas meja dengan alis terangkat, lalu menunjuk, “Ini…sebenarnya apa?” “Sketsa wajah utusan yang terbunuh,” jawab sang majikan.
1012.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 430 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
SUAMI PENGGANTIKU SEORANG BOS

SUAMI PENGGANTIKU SEORANG BOS

"Papa sama Mama." Dewi menelan ludah, rasa cemasnya bertambah saat matanya tertuju pada senyuman bahagia yang terukir di wajah orang tua Aksara dalam foto itu. Seolah-olah mereka menuntut kebahagiaan serupa untuk putra mereka. "Mas?" "Ya?" "Bolehkah aku tahu sedikit tentang keluargamu? Biar aku gak bingung nantinya." "Hmmm ..."
5.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 147 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
DERITA WAJAH JELEK

DERITA WAJAH JELEK

tegas wanita itu tiba-tiba menjadi marah. “Hmph! Wanita itu akan menyesal ketika nantinya melihat sosok asli Diano. Saat itu tiba, aku pasti akan menjadi yang paling pertama menertawakannya. Ha-ha-ha!” Citra kembali tertawa terbahak-bahak dengan begitu puas. *** Di sebuah restoran yang tampak elegan. Sosok wanita tertunduk dengan wajah yang sedih. Dia melihat ke arah seorang bayi yang hendak berusia dua tahun.
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH

KETIKA ISTRIKU BERHENTI MENGELUH

Saat itu, Tari mendapati perubahan besar dalam diri anaknya. Wajahnya tak lagi penuh keraguan. Suaranya lebih tenang. Ia mulai banyak bicara. Bahkan sempat bercerita panjang lebar tentang sketsa barunya — tentang Jakarta yang panas dan bagaimana senja di sana membuatnya ingin menangis. Dan malam itu, ia menunjukkan sebuah lukisan yang baru selesai: Gambar seorang ibu berdiri di tengah taman, dikelilingi pohon raksasa yang menjulang tinggi. Di atasnya, langit penuh warna jingga.
1086.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.0K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Pembohong yang Sempurna

Pembohong yang Sempurna

Sebelumnya Parta dan Nyla sempat memperkenalkan diri. “Saya ingin bertanya mengenai sebuah keluarga.” Parta meminta foto yang sudah disimpan lagi di tas Bela kemudian mengulurkannya kepada orang tua itu dengan hormat. Lama sekali orang itu mengamati. Antara samar karena gambar yang kusut ditambah mata tua yang sudah mulai berkurang daya pandangnya. Orang tua itu sesekali mendekatkan, sesekali menjauhkan foto itu. Menyipitkan pandang. Wajahnya, meski sudah keriput, menegaskan garis-garis yang sedang memikirkan sesuatu. Ia berusaha menyelami gambar itu dan mengingat peristiwa di dalamnya.
1010.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 350 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Cinta Dalam Sangkar Rahasia

Cinta Dalam Sangkar Rahasia

“Karena kamu lebih dari itu. Kamu... bagian dari jawabannya.” Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan satu lembar kertas. Lukisan kecil, sketsa dua perempuan berdiri di depan perapian. Satu lebih tua, berambut panjang. Satunya lagi masih muda, berdiri sedikit di belakang. Wajah sang perempuan tua adalah wajah ibunya. Wajah yang muda adalah Averine. “Camilla melukis ini?” bisik Averine
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Bimantara Pendekar Kaki Satu

Bimantara Pendekar Kaki Satu

Dia segan bertanya karena Penasehat itu masih melanjutkan lukisannya. Pangeran Sakai pun menunggu. Tak lama kemudian, Penasehat itu melukis wajah pemuda yang lain. Pangeran Sakai semakin heran. Dia diam saja menunggu Penasehat selesai melukiskannya. Dan akhirnya Penasehat Raja berhenti melukis saat sudah berhasil melukis empat wajah pemuda. Salah satu wajahnya mirip dengan wajah Bimantara dan salah satu lukisan wajah pemuda itu tampak tidak jelas, hanya pakaiannya saja yang tampak, sementara wajahnya tampak terlihat samar.
9.7426.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 11.9K kali sebagai sketsa wajah orang tua
Tampilkan Ulasan (100)
Baca
+Pustaka
KSATRIA PENGEMBARA
Numpang promo y kk LEGENDA RAJA PENDEKAR Kisah perjalanan seorang pendekar muda bernama Jiu Long, hingga mencapai tingkat derajat tertinggi di dunia kependekaran saat itu. Menjadi orang nomor 1 di dunia persilatan dan mendapat julukan sebagai RAJA PENDEKAR. Jangan lupa mampir ya. Terima kasih...
Nisa Nurpasa
Mampir juga yuk ke novel 'Menikahi Gadis Desa' ... Sarah Larasati, terpaksa menerima perjodohan dengan seorang pria kota bernama Fabian Aditama. Bukan tanpa alasan ia menerima perjodohan ini, hutang sang ayah lah yang menjadi alasannya. Akankah Sarah bahagia bersama pasangannya kelak? Atau hanya p
Baca Semua Ulasan
Anak dari Sang CEO

Anak dari Sang CEO

Revan memungutnya, lalu membuka halaman demi halaman dengan hati-hati. Halaman awal berisi catatan belanja dan beberapa resep masakan. Namun di bagian tengah, terdapat coretan krayon khas tangan anak kecil. Gambar orang lidi. Tiga figur. Satu figur wanita berambut panjang dengan tulisan “MAMI.” Satu figur anak kecil di tengah bertuliskan “RAFA.” Dan satu figur laki-laki tinggi di samping mereka. Wajah figur laki-laki itu hanya lingkaran kosong. Namun di atas kepalanya, tertulis dengan ejaan cakar ayam khas anak TK.
101.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion

Terjerat Takdir Cinta Sang Pangeran Aetherion

Matanya beralih dari kertas sketsa ke wajah wanita di hadapannya. Ia tidak sedang menilai desain itu sebagai konsumen. Ia sedang mengagumi fakta bahwa wanita ini menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan cara terbaik untuk membuatnya terlihat sempurna di hari sakral mereka. Rasya menggeleng pelan, senyum tulus merekah di bibirnya. "Tidak ada yang perlu diubah, Baby. Ini sempurna," ucapnya, suaranya rendah dan meyakinkan.
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Perjalanan Patah Hati

Perjalanan Patah Hati

Menerbangkan anak-anak rambut, menguarkan aroma wangi tubuh. Vanilla and rose. Dan cara Raya menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya, cara Raya menggoreskan pensil ke buku sketsanya, hingga caranya menggigit bibir saat sedang serius, jadi pelengkap pemandangan indah di atas Jembatan Ampera malam ini. "Lo gambar siapa?" tanya Sal, saat menyadari sketsa lanskap Jembatan Ampera dengan latar Sungai Musi di tangan Raya juga menghadirkan sosok seorang pria yang tengah menggendong anak kecil.
101.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai sketsa wajah orang tua
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status