여기 tante pakai handuk와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 tante pakai handuk와 같은 이야기는 Romansa, Rumah Tangga 및 Fantasi 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!부터 시작해보세요!
"Lihat piyamamu yang sungguh tipis itu, kamu enggak tahu dia itu laki-laki?"
"Lalu kenapa? Apa bedanya dengan kamu yang suka membuat itu menyembul? Sengaja 'kan?" Kak Lora menunjuk ke arah gumpalan daging tidak terbungkus oleh handuk kecil yang melilit setengah badan perempuan cantik itu.
"Ada handuk yang lebih besar dan kau sengaja pakai handuk pas-pasan!" imbuh Kak Lora dengan suara meninggi dan telunjuknya menunjuk-nunjuk bongkahan itu.
Pintu tipis itu kembali ditutup, "tidak usah!"
Orang yang sedang jadi bahan argumentasi baru saja keluar dengan menggunakan handuk putih yang melingkar di panggulnya. Nadia kembali mengomel, "Mulai besok kamu harus memakai handuk kimono!"
"Handuk punya kamu?"
"Bukan, belilah khusus untuk kamu sendiri, pokoknya saya tidak mau kamu terlihat sexy seperti ini!"
Abimana menahan tawa. "Baik, nyonya."
Handuk itu wangi sabun dan pelembut pakaian.
Ryker terdiam sesaat, terlihat enggan menjawab. Namun, tatapan Sabella yang tidak putus padanya, membuat hati tidak nyaman. “Aku tidak punya handuk lain. Tapi kujamin, itu bersih,” ucapnya penuh maksud. Dirinya pun tidak pandai berbohong.
Tenggorokannya kembali terasa segar.
Minuman itu telah habis tak bersisa, kini mata Daiki mulai fokus dengan handuk yang ada di tangan Kira.
“Itu” tunjuknya kearah handuk.
Kira mengangkat handuk itu kemudian berucap.
“Kau bisa memakainya untuk membersihkan keringatmu” mengingat beberapa hari yang lalu Daiki sempat menolak dirinya ketika ingin membantu mengusap keringat di kening, sehingga kali ini Kira lebih memilih memberikan handuk itu kepada Daiki agar lelaki itu memakainya sendiri.
Ia tidak berani melihat ke arah Andrian.
" yaa.. salah kamu sendiri, saya panggil panggil, tidak mau nyaut. saya pikir kamu sudah tidur. mangka nya saya keluar. Handuk saya tertinggal digantungan itu. tolong ambilkan dong." Andrian menunjuk ke arah handuknya. Ia tidak mempedulikan tubuhnya yang tidak berbusana sama sekali. Tanpa ada sehelai kain pun yang menutupi nya.
"Ihh.. Dasar hantu tua, merepotkan aku saja."
Hanya itu yang mampu keluar dari dalam mulutku.
Aku bergegas ke dalam kamar, mengambil handuk dari almari tiga pintu. Aku membuka pintu tengah lemari, mengambil handuk berwarna merah yang berada di tumpukan paling atas dan kembali keluar.
Aku menghampiri Pak Hasan yang duduk teras. Dia tampak kedinginan, beberapa kali pria itu mengusap-usapkan tangannya. Hujan malam ini memang sangat lebat, disertai angin kencang dan petir yang menyambar. “Ini, keringkan badanmu, Pak.” Aku memberikan handuk padanya. Dia lantas mengeringkan rambutnya dengan Handuk tersebut.
Tak berapa lama Mbak Imah pun datang dengan membawakan handuk yang baru saja dia ambil dari kamarku.
"Shutt! Non cepat pakai handuknya!" perintah Mbak Imah seraya mengulurkan handuk tersebut padaku. Namun anehnya kenapa dia menyuruhku untuk tidak bersuara dengan memberikan kode menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
"Mbak Imah kenapa?" tanyaku binggung.
"Cepetan ayo ikut Mbak sekarang juga. Non bawa Hp?" tanyanya.
Dan kedua tangannya yang masih terlihat gemetaran.
Hanzero segera melucuti pakaian dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sesekali sambil menarik nafas. Setelah selesai mandi dan menenangkan diri dia segera mencari handuk.
"Astaga! Mana handuk?" Ia celingukan. Ternyata karena terburu buru akibat gugup tadi dia lupa membawa Handuk.
Terpaksa dia berteriak untuk meminta tolong pada Arumi.
Nana bangkit dari ranjang pijat, namun kemudian ia menghentikan langkahnya di depan pintu kamar mandi.
Ia menoleh kembali ke arah Teja dengan tatapan bingung. "Kamu ada handuk, Jo?"
Teja melirik ke arah jemuran kecil di sudut ruangan di mana terdapat sebuah handuk bersih miliknya yang sering ia gunakan.
"Eh, mau pakai handukku? Bau asem lho," goda Teja dengan senyuman jahil yang menghiasi wajah tampannya.
Tampaknya dia sudah siap dipijat, dia bahkan hanya mengenakan handuk tipis yang melilit tubuhnya.
"Lama banget, Gus. Tante hampir ketiduran nungguin kamu," ucapnya tanpa menoleh.
"Maaf, Tante. Tadi cuci piring dulu," jawabku sambil melangkah mendekat dengan kaku.
"Ya sudah, sini. Punggung Tante rasanya mau patah. Tolong ya, tekanannya yang kuat sedikit supaya ototnya lemas."